AS Evaluasi Perundingan Damai dengan Iran dalam Beberapa Hari

AS Evaluasi Perundingan Damai dengan Iran dalam Beberapa Hari
Foto: Ilustrasi AS Evaluasi Perundingan Damai dengan Iran dalam Beberapa Hari.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah menghitung mundur waktu guna menilai potensi kemajuan diplomasi dalam perundingan damai dengan Iran. Langkah krusial ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington pada Kamis (28/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

"Ada kesepakatan yang bisa dicapai, dan kami ingin hal itu terwujud. Saya melihat sudah ada beberapa kemajuan serta ketertarikan (dari kedua belah pihak). Kita akan buktikan dalam beberapa hari ke depan," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.

Penilaian terhadap kelanjutan dialog tersebut akan dilakukan dalam hitungan jam atau beberapa hari mendatang. Meski mengutamakan dialog, Rubio menegaskan Presiden AS Donald Trump tetap menyiapkan opsi militer jika diplomasi menemui jalan buntu.

Pihak Washington saat ini lebih memilih jalur diplomatik melalui perundingan. Pemerintah AS juga memberikan ruang seluas-luasnya agar kesepakatan antar kedua negara bisa tercapai.

Hubungan kedua negara sebelumnya memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara bersama ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 3.000 jiwa. Kendati sempat menyepakati gencatan senjata pada 7 April, ruang negosiasi lanjutan di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa terobosan.

Situasi di lapangan masih rawan karena AS tetap memberlakukan blokade ketat di sekitar pelabuhan dan perairan Iran. Pemerintah AS bahkan dilaporkan sempat meluncurkan serangan sporadis, meski sebelumnya telah mendeklarasikan gencatan senjata tanpa batas waktu.

Peluang kesepakatan nuklir sementara sempat diungkapkan Rubio pada Senin lalu dengan optimisme tinggi. Berdasarkan laporan The Washington Post, draf kesepakatan kerangka kerja yang diajukan AS meminta Teheran menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah diperkaya, namun Iran belum memberikan persetujuan resmi.

Seorang pejabat tinggi Iran mengonfirmasi kepada media tersebut bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung bukanlah sebuah kesepakatan nuklir final. Langkah ini merupakan perjanjian taktis untuk menunda perdebatan isu nuklir ke masa depan demi meredakan ketegangan saat ini.

Krisis nuklir Iran telah menjadi motor utama ketegangan di Timur Tengah selama lebih dari dua dekade akibat kekhawatiran global terhadap program pengayaan uranium. Ketidakpastian diplomatik ini diperparah setelah AS menarik diri sepihak dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada era sebelumnya.

Penarikan diri tersebut memicu sanksi ekonomi berat bagi Iran dan membuat Teheran kembali mempercepat aktivitas nuklirnya. Kegagalan mencapai kesepakatan sementara berpotensi menyeret kawasan tersebut ke dalam perang terbuka yang berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi