Amerika Serikat Dorong Emirat Arab Rebut Pulau Lavan Milik Iran

Amerika Serikat Dorong Emirat Arab Rebut Pulau Lavan Milik Iran
Foto: Ilustrasi Amerika Serikat Dorong Emirat Arab Rebut Pulau Lavan Milik Iran.

Pejabat di lingkaran pemerintahan Donald Trump mendorong Uni Emirat Arab untuk merebut Pulau Lavan, sebuah wilayah strategis milik Iran di kawasan Teluk, guna menggantikan kehadiran militer langsung Amerika Serikat.

Rencana penempatan pasukan darat tersebut ditujukan untuk menekan Teheran di tengah eskalasi yang kian memanas, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia berdasarkan laporan The Telegraph.

"Ambil saja mereka! Itu akan menjadi sepatu bot Emirat di lapangan, bukan AS," ujar seorang mantan pejabat senior keamanan Trump.

Dorongan dari pihak Amerika Serikat tersebut muncul setelah Pulau Lavan dilaporkan menjadi sasaran serangan udara rahasia oleh militer Emirat pada awal April lalu. Laporan intelijen mengindikasikan adanya kerusakan signifikan pada fasilitas kilang minyak Iran di pulau tersebut, meski Abu Dhabi belum memberikan konfirmasi resmi.

Langkah militer Emirat yang semakin agresif dipicu oleh serangan masif lebih dari 2.800 rudal dan drone dari Teheran ke wilayah mereka sejak Israel dan Amerika Serikat menggempur Iran pada akhir Februari. Situasi ini dinilai para analis sebagai momen krusial yang memaksa Emirat menilai ulang pertahanan serta aliansi globalnya.

Kondisi tersebut mempercepat penyelarasan kembali geopolitik di Timur Tengah, di mana Emirat memilih melipatgandakan kemitraan militer dengan Washington dan Tel Aviv, termasuk menerima pengiriman baterai pertahanan udara Iron Dome dari Israel. Sebaliknya, hubungan Abu Dhabi dengan Arab Saudi justru semakin merenggang dan memperdalam jurang perbedaan regional.

Peneliti dari Royal United Services Institute (RUSI), Dr. Burcu Ozcelik, menilai bahwa perang ini mengakselerasi penyelarasan Amerika Serikat, Israel, dan Emirat. Namun, ia juga memperingatkan adanya risiko reputasi bagi Abu Dhabi di dunia Arab akibat kerja sama militer yang terlalu dalam dengan Israel.

Pemerintah Iran merespons keras pergerakan tersebut dengan secara resmi menyatakan Emirat sebagai mitra aktif dalam agresi militer pada pekan ini. Pihak Emirat langsung menolak tuduhan itu dan menegaskan hak kedaulatan militer serta diplomatik mereka untuk menghadapi setiap ancaman musuh.

Hubungan regional semakin rumit setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim adanya kunjungan rahasia ke Emirat pada Maret lalu yang menghasilkan terobosan signifikan. Klaim kunjungan tersebut kemudian dibantah oleh pihak Abu Dhabi.

Artikel terkait

Rekomendasi