Arab Saudi Mulai Menjauh dari AS dan Rintis Blok Arab-Islam

Arab Saudi Mulai Menjauh dari AS dan Rintis Blok Arab-Islam
Foto: Ilustrasi Arab Saudi Mulai Menjauh dari AS dan Rintis Blok Arab-Islam.

Dinamika politik di kawasan Timur Tengah kini tengah memasuki babak baru. Arab Saudi dilaporkan mulai meragukan komitmen perlindungan keamanan yang selama ini diberikan oleh Amerika Serikat (AS).

Analis senior asal Saudi, Mubarak al-Ati, mengungkapkan bahwa Riyadh kini tidak lagi memandang AS sebagai penjamin keamanan utama yang bisa diandalkan, seperti dilansir dari Media Indonesia.

Keengganan Presiden Donald Trump untuk terlibat dalam konflik militer terbuka demi menggulingkan rezim di Iran menjadi pemicu berubahnya persepsi para sekutu tradisional. Al-Ati bahkan menyebut pemimpin AS tersebut seperti macan kertas yang kehilangan taring dalam urusan internasional.

Penurunan pengaruh global AS dinilai sudah terlihat sejak penarikan pasukan dari Afghanistan pada tahun 2021 di bawah pemerintahan Biden. Peristiwa tersebut dipandang sebagai sebuah pintu keluar yang memalukan bagi negara adidaya.

Situasi ini memberikan ruang bagi negara-negara anggota G20 seperti India, Brasil, dan Arab Saudi untuk mengeksplorasi peluang baru. Riyadh kini memosisikan diri sebagai aktor independen yang tidak ingin sekadar menjadi satelit kepentingan Israel maupun AS.

"Arab Saudi menahan diri untuk tidak terseret ke dalam perang dan tidak berdiri di samping Israel maupun Amerika Serikat, sebagaimana mereka juga tidak berdiri di samping Iran," ujar Al-Ati.

Sebagai langkah strategis yang nyata, Arab Saudi dikabarkan sedang memimpin pembentukan aliansi baru yang disebut Blok Arab-Islam. Aliansi ini diprediksi akan melibatkan negara-negara kunci seperti Pakistan, Turki, dan Qatar untuk menciptakan stabilitas kawasan tanpa ketergantungan penuh pada kekuatan Barat.

Pergeseran geopolitik ini mulai berdampak pada beberapa inisiatif diplomatik, termasuk Abraham Accords yang mulai direm normalisasinya oleh Arab Saudi. Selain itu, ada upaya pembersihan pengaruh militer asing di titik strategis seperti Sudan, Yaman Selatan, dan Somaliland.

Riyadh kini juga tengah merintis jalan bagi kesepakatan regional melalui diplomasi nonkekerasan yang melibatkan Iran serta negara-negara Teluk dengan jaminan internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi