Anwar Ibrahim Pertimbangkan Pemilu Mendadak di Malaysia

Anwar Ibrahim Pertimbangkan Pemilu Mendadak di Malaysia
Foto: Ilustrasi Anwar Ibrahim Pertimbangkan Pemilu Mendadak di Malaysia.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim membuka peluang untuk menggelar pemilihan umum mendadak dalam waktu dekat.

Langkah tersebut bakal diambil apabila hubungan internal di dalam tubuh pemerintahan persatuan saat ini terus mengalami pemburukan.

Opsi ini mengemuka di tengah jadwal resmi pemilu umum berikutnya yang sebenarnya baru akan diselenggarakan pada tahun 2028 mendatang.

Meski begitu, dilansir dari Internasional, terdapat dua anggota parlemen yang membisikkan kepada Reuters bahwa pemilu berpotensi dipercepat paling awal pada Juli, bersamaan dengan pemilu di beberapa negara bagian.

Struktur pemerintahan persatuan Malaysia saat ini ditopang oleh koalisi besar yang melibatkan Barisan Nasional, Pakatan Harapan, serta beberapa partai politik lainnya.

Pernyataan terkait sinyal pemilu mendadak tersebut disampaikan langsung oleh Anwar saat berpidato dalam konvensi kepemimpinan partai koalisinya, Pakatan Harapan.

"Tanggal (pemilu umum) adalah keputusan Perdana Menteri, tetapi saya harus mendengarkan saran dan (pandangan) teman-teman," katanya.

Anwar juga menambahkan bahwa koalisi yang dipimpinnya dipastikan bakal ikut serta bertanding dalam pemilihan di seluruh wilayah negara bagian.

Di sisi lain, dinamika politik internal semakin berkembang seiring dengan mundurnya dua tokoh penting dari kursi parlemen mereka.

Mantan Menteri Ekonomi Rafizi Ramli dan mantan Menteri Lingkungan Hidup Nik Nazmi mengumumkan pengosongan kursi parlemen mereka secara bersamaan.

Belum dapat dipastikan apakah Anwar mengetahui keputusan pengunduran diri tersebut saat dirinya menyampaikan pidato politik di konvensi.

Rafizi Ramli, yang juga pernah menduduki posisi Wakil Presiden di Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar, selama ini kerap digadang-gadang sebagai calon kuat pengganti sang Perdana Menteri.

Hubungan kedua tokoh tersebut merenggang setelah Rafizi dan Nik Nazmi meletakkan jabatan kabinet mereka pada Juni tahun lalu akibat kekalahan dalam pemilihan internal PKR.

Sejak keluar dari kabinet, Rafizi bertransformasi menjadi salah satu sosok yang vokal melayangkan kritik terhadap jalannya pemerintahan Anwar.

Melalui pernyataan bersama, Rafizi dan Nik Nazmi menegaskan akan mengirimkan surat resmi pengunduran diri kepada ketua parlemen.

Selain mundur dari parlemen, mereka berdua juga memutuskan keluar secara resmi dari PKR untuk berpindah haluan ke partai lain.

Kedua politisi tersebut kini bergabung dengan Partai Persatuan Malaysia, sebuah partai yang berdiri sejak 2016 dan memiliki basis massa kuat di wilayah Penang.

Proses perpindahan ini ditandai dengan kehadiran mereka dalam sebuah upacara penyerahan simbolis bersama pendiri partai tersebut, Tan Gin Theam.

Artikel terkait

Rekomendasi