Angin Kencang Diduga Kuat Picu Blackout Massal di Sumatra

Angin Kencang Diduga Kuat Picu Blackout Massal di Sumatra
Foto: Ilustrasi Angin Kencang Diduga Kuat Picu Blackout Massal di Sumatra.

Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda wilayah Sumatra pada Mei 2026 membuka fakta baru mengenai kerentanan sistem jaringan interkoneksi. Gangguan besar ini diduga kuat berawal dari fenomena cuaca di ketinggian yang merusak infrastruktur penyaluran setrum.

Dikutip dari Suara, tekanan mekanis dan osilasi kabel akibat terpaan angin kencang disinyalir menjadi penyebab utama kerusakan pada titik sambungan transmisi. Kondisi tersebut kemudian memicu respons otomatis dari sistem proteksi yang berujung pada lepasnya pembangkit listrik secara berantai.

Pengamat sistem tenaga listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Darwanto menyatakan bahwa faktor cuaca sangat berpotensi menjadi intervensi eksternal dalam insiden blackout Sumatra. Indikasi ini diperkuat oleh lokasi kerusakan yang spesifik berada pada area mid span jointing atau sambungan kabel transmisi.

"Kalau melihat pola gangguan yang disampaikan dan titik kerusakannya berada di sambungan kabel, maka faktor cuaca sangat mungkin berkontribusi dalam peristiwa ini," ujarnya seperti dikutip Jumat (29/5/2026).

Sebelumnya, tim gabungan dari Bareskrim, Puslabfor, bersama PLN telah memetakan tiga probabilitas penyebab putusnya jalur transmisi tersebut. Tiga aspek yang diinvestigasi meliputi stress thermal akibat suhu, kendala teknis pada area sambungan, serta tekanan mekanis dari beban kabel yang diperparah oleh tiupan angin.

Djoko Darwanto menambahkan bahwa persepsi publik sering kali keliru karena hanya memantau kondisi cuaca dari permukaan tanah. Padahal, karakteristik dan kecepatan angin di ketinggian jalur kabel transmisi memiliki intensitas yang jauh berbeda.

"Di bawah mungkin terasa tidak ekstrem, tetapi di area konduktor, angin bisa cukup kuat untuk menyebabkan kabel bergerak dan saling menarik. Kondisi itu dapat memunculkan tekanan berulang pada kabel," katanya.

Pergerakan konstan atau osilasi yang dipicu oleh hembusan angin secara terus-menerus lambat laun mengakumulasi beban mekanis pada titik sambungan. Risiko keretakan atau putus interkoneksi menjadi sangat tinggi ketika kabel tengah menyalurkan beban arus puncak.

Secara teknis, area mid span jointing merupakan titik penyambung dua konduktor pada satu bentangan kabel transmisi yang menggantung di udara. Area ini diakui memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian kabel utuh.

"Pada area sambungan, distribusi tekanannya berbeda dibanding bagian kabel utuh. Karena itu area ini menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan dalam sistem transmisi," katanya.

Mengenai hasil pemantauan thermal menggunakan drone yang sempat menunjukkan status normal sebelum insiden, Djoko menilai hal itu tidak menghapus potensi gangguan. Tekanan dinamis akibat vibrasi dan cuaca sering kali baru bermanifestasi secara ekstrem saat sistem beroperasi penuh.

ÔÇ£Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,ÔÇØ katanya.

Karakteristik sistem interkoneksi Sumatra yang mengintegrasikan jalur-jalur strategis membuat gangguan lokal dapat meluas dengan sangat cepat. Penurunan frekuensi jaringan secara mendadak memaksa sistem proteksi bertindak cepat demi menghindari kerusakan fatal pada generator.

"Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai," ujarnya.

Langkah pemutusan hubungan pembangkit secara otomatis tersebut ditegaskan sebagai prosedur standar dalam dunia ketenagalistrikan. Proteksi responsif ini berfungsi mengisolasi dampak kerusakan agar tidak merembet ke subsistem kelistrikan yang lebih luas.

Artikel terkait

Rekomendasi