Ancaman Super El Nino Mengintai Dunia pada Akhir Tahun Ini

Ancaman Super El Nino Mengintai Dunia pada Akhir Tahun Ini
Foto: Ilustrasi Ancaman Super El Nino Mengintai Dunia pada Akhir Tahun Ini.

Fenomena El Nino dengan intensitas terkuat dalam beberapa dekade terakhir diperkirakan berpotensi melanda dunia pada akhir tahun ini. Seperti diberitakan oleh Nasional, kondisi ekstrem tersebut dikhawatirkan dapat memicu banjir, kekeringan, hingga mendorong suhu global mencapai rekor tertinggi baru pada 2027.

Prakiraan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada 14 Mei 2026 menunjukkan peluang besar berkembangnya El Nino antara Mei hingga Juli tahun ini. Fenomena iklim global yang terjadi berkala setiap dua hingga tujuh tahun ini ditandai oleh menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur.

Dampak anomali cuaca ini bervariasi di setiap negara, mulai dari kekeringan panjang hingga hujan ekstrem. Sebagai gambaran, peristiwa serupa pada 2023ÔÇô2024 telah menyebabkan bencana kelaparan di Afrika bagian selatan, banjir besar di Brasil selatan, serta menempatkan 2024 sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah modern.

Laporan dari jurnal Nature pada 14 Mei 2026 mengungkapkan bahwa suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis saat ini sudah berada di atas normal. Wilayah lepas pantai barat Amerika Selatan bahkan mencatat kenaikan suhu sekitar 1 derajat Celsius dalam beberapa pekan terakhir, yang mengindikasikan potensi El Nino kali ini bisa lebih kuat.

Data NOAA memaparkan probabilitas kemunculan fenomena ini mencapai 82 persen pada periode Mei-Juli, dan berpeluang bertahan hingga Desember sebesar 96 persen. Sementara itu, peluang untuk mencapai kategori tertinggi atau "Super El Nino" berada di angka 37 persen, yang merujuk pada kenaikan suhu permukaan laut di atas 2 derajat Celsius.

Di sisi lain, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) memprediksi lonjakan suhu laut di kawasan tersebut bisa menyentuh angka 3 derajat Celsius di atas normal pada November mendatang. Kondisi intensitas ekstrem ini mengingatkan pada peristiwa 2015ÔÇô2016 yang memicu berbagai bencana cuaca di banyak negara.

BMKG Pantau Intensif Dampak di Indonesia

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sophaheluwakan menyatakan bahwa pihaknya terus memantau dinamika suhu muka laut dan atmosfer secara intensif. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kekuatan serta dampak El Nino terhadap wilayah Indonesia.

"BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai kategori lemah sebesar 100 persen, kategori moderat sebesar 86 persen, dan kategori kuat sebesar 22 persen," ujar Ardhasena.

Ia menerangkan bahwa teknologi pemantauan iklim masa lalu belum secanggih saat ini, sehingga dampak El Nino di masa lampau sering kali meluas tanpa sistem peringatan dini yang memadai.

"Pada saat itu, sains mengenai El Nino belum sepenuhnya berkembang dan belum tersedia sistem monitoring laut maupun peringatan dini," katanya.

Menurut Ardhasena, wilayah Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan penuh pada periode Mei hingga Oktober yang bertepatan dengan musim kemarau.

"El Nino bisa berlanjut sampai tahun berikutnya, tetapi dampaknya di Indonesia umumnya paling terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau di pertengahan tahun," jelasnya.

Karakteristik cuaca di Indonesia saat El Nino umumnya menjadi lebih kering dengan curah hujan yang menurun drastis, berbeda dengan wilayah Amerika Latin seperti Peru yang justru menghadapi banjir. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau waspada terhadap bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan.

"Yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan," ujarnya.

Risiko Krisis Pangan dan Dampak Ekonomi Global

Potensi kemunculan Super El Nino memicu kekhawatiran para ilmuwan akan terulangnya tragedi bencana iklim besar pada 1877 yang melahirkan krisis pangan global sepanjang 1876ÔÇô1878. Kala itu, kekeringan hebat melanda Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga Australia secara bersamaan, sehingga tidak ada wilayah yang bisa menjadi penyangga pangan.

Peristiwa abad ke-19 tersebut mengakibatkan gagal panen massal dan menewaskan lebih dari 50 juta orang, atau sekitar 3 persen dari total populasi bumi waktu itu. Ahli klimatologi dari Columbia University, Deepti Singh menyebutnya sebagai salah satu bencana lingkungan paling mematikan yang setara dengan El Nino modern tahun 1997ÔÇô1998 dan 2015ÔÇô2016.

"Tidak ada bencana lingkungan yang lebih mematikan sejak saat itu," kata Deepti Singh.

Meskipun kondisi sosial dan ekonomi saat ini telah berubah, Deepti Singh mengingatkan bahwa ancaman terhadap ketahanan pangan, pasokan air, dan stabilitas ekonomi global tetap tinggi.

"Yang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah," ujarnya.

Kerugian finansial akibat fenomena ini juga tidak main-main, berkaca pada El Nino 1997ÔÇô1998 yang menelan kerugian ekonomi dunia antara 32 hingga 96 miliar dollar AS, atau berkisar Rp 563,2 triliun hingga Rp 1,69 kuadriliun. Peramal ENSO NOAA, Nathaniel Johnson menambahkan bahwa sektor pertanian dan perikanan menjadi area yang paling rentan terpukul.

Profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens turut memperingatkan potensi krisis kemanusiaan yang lebih besar akibat tingginya populasi rentan saat ini.

"Saat ini sudah ada lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen menurun akibat kekeringan atau banjir terkait El Nino, harga pangan akan semakin melonjak," kata Stephens.

"Karena itu, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut," tambah Stephens.

Berikut adalah data terstruktur mengenai proyeksi dampak serta rekam jejak historis fenomena iklim ini di berbagai periode.

Dampak El Nino di Indonesia dan Potensi Risikonya
Dampak El Nino di IndonesiaPotensi Risiko
Penurunan curah hujanKekeringan
Kemarau lebih panjangKrisis air bersih
Kondisi lahan mengeringKarhutla
Gangguan pertanianPenurunan produksi pangan
Cuaca lebih panasRisiko kesehatan meningkat
Rekam Jejak Sejarah Peristiwa El Nino Besar di Dunia
Peristiwa El Nino BesarDampak Utama
1877ÔÇô1878Krisis pangan global, jutaan korban jiwa
1997ÔÇô1998Kerugian ekonomi global hingga US$96 miliar
2015ÔÇô2016Cuaca ekstrem di banyak negara
2023ÔÇô2024Kekeringan Afrika dan banjir Brasil

Artikel terkait

Rekomendasi