Ancaman Super El Nino dan Krisis Energi Hantui Kawasan Asia

Ancaman Super El Nino dan Krisis Energi Hantui Kawasan Asia
Foto: Ilustrasi Ancaman Super El Nino dan Krisis Energi Hantui Kawasan Asia.

Kawasan Asia kini menghadapi tantangan ganda akibat dampak konflik di Timur Tengah dan ancaman fenomena El Nino yang diprediksi akan menguat. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait lonjakan kebutuhan energi, penurunan pasokan listrik tenaga air, hingga potensi kerusakan hasil panen di berbagai negara.

Dilansir dari Lestari, Badan cuaca dan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan fenomena iklim alami yang memengaruhi pola curah hujan dunia ini akan muncul antara Mei hingga Juli 2026. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut tanda awal menunjukkan potensi kekuatan yang sangat besar.

Beberapa pihak bahkan mulai menyebut fenomena mendatang sebagai "super El Nino". Meskipun istilah tersebut belum digunakan secara resmi oleh kalangan ilmuwan, dampaknya diprediksi akan membawa gelombang panas, kekeringan, hingga hujan lebat di sebagian wilayah Asia.

Di Indonesia, pergeseran pola hujan ke arah laut menjadikan wilayah ini rentan terhadap kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Fenomena yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali ini diprediksi berdasarkan perubahan suhu air laut secara signifikan.

"Keanehan di bawah permukaan laut yang kita lihat sejauh ini cukup kuat," ujar Peter van Rensch, ilmuwan iklim dari Universitas Monash, Australia.

"Kondisinya terlihat mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 1997/98, yang mungkin merupakan El Nino terkuat yang pernah ada," katanya.

Dampak bencana besar pernah tercatat pada peristiwa tahun 1997 yang menghanguskan jutaan hektar lahan di Indonesia. Pemerintah kini mulai memetakan lahan gambut yang berisiko terbakar sebagai langkah antisipasi terhadap potensi curah hujan terendah dalam 30 tahun terakhir.

Ancaman ini muncul saat Asia tengah tertekan krisis energi akibat gangguan di Selat Hormuz. Iran menutup jalur strategis tersebut sejak 28 Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel, yang berdampak pada terhambatnya pasokan bahan bakar dunia.

Haneea Isaad, ahli keuangan energi di Institute for Energy Economics and Financial Analysis, menjelaskan dampak hambatan di Selat Hormuz bagi ekonomi.

"Bagi negara-negara yang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyak, gas, dan perdagangan lainnya, pasokan yang terhambat akan menyebabkan penjatahan bahan bakar yang lebih ketat, pengaturan penggunaan energi, serta penurunan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi (PDB) secara keseluruhan," ujar Haneea Isaad.

Kekeringan juga mengancam operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), terutama bagi negara di sepanjang sungai Mekong, Nepal, dan Malaysia. Hal ini merujuk pada kejadian tahun 2022 di China, di mana produksi listrik PLTA Sichuan merosot hingga lebih dari 50 persen akibat gelombang panas.

Ancaman pada Sektor Pertanian

Sektor pertanian diperkirakan akan menanggung beban berat akibat cuaca panas dan kenaikan biaya operasional. Konflik global yang masih berlangsung telah menyebabkan harga pupuk dan bahan bakar mesin pertanian melonjak tajam.

Lembaga riset BMI memperingatkan bahwa keuntungan petani akan tergerus jika harga jual hasil panen tidak mampu menutup modal. Kondisi ini berisiko mengurangi penggunaan pupuk yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas pangan di wilayah rawan iklim.

Di sisi lain, El Nino juga berpotensi memicu banjir bandang di sebagian wilayah Asia lainnya, seperti China selatan. Banjir tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu masa panen padi akhir musim yang sangat krusial bagi ketersediaan stok pangan kawasan.

Para ahli menyarankan negara-negara Asia untuk segera mendiversifikasi infrastruktur energi dengan beralih ke sumber ramah lingkungan. Penggunaan energi surya dan angin yang dipadukan dengan baterai dinilai lebih tangguh dalam menghadapi cuaca ekstrem dibandingkan sistem bahan bakar fosil yang terpusat.

Artikel terkait

Rekomendasi