Penarikan pasukan TNI dari misi perdamaian dunia di Lebanon dinilai dapat menjadi konsekuensi strategis bagi posisi Indonesia di kancah internasional. Pandangan ini disampaikan oleh Selamat Ginting, analis politik dan militer dari Universitas Nasional, menyusul gugurnya prajurit keempat TNI di wilayah tersebut.
Dilansir dari Nasional, isu ini mencuat setelah kematian Praka Rico Pramudia, anggota Satgas Yonmek XXIII-S Kontingen Garuda pada misi UNIFIL. Rico meninggal dunia pada Jumat (24/4/2026) setelah mendapatkan perawatan intensif selama hampir satu bulan akibat luka berat dari serangan artileri.
"Lalu muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: apakah Indonesia perlu menarik pasukan dari Lebanon?" tegas Ginting saat dihubungi Kompas.com, Minggu (28/4/2026).
"Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana. Penarikan pasukan memang dapat mengurangi risiko korban dalam jangka pendek. Namun langkah tersebut juga membawa konsekuensi strategis," jelas Ginting.
Selama ini, Indonesia memegang status sebagai salah satu kontributor utama bagi pasukan perdamaian global. Partisipasi aktif ini dipandang sebagai instrumen diplomasi vital yang memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat dunia, bukan sekadar simbol komitmen belaka.
"Oleh karena itu, pilihan paling rasional bukanlah menarik diri sepenuhnya, melainkan melakukan penyesuaian strategis. Indonesia dapat tetap berkontribusi, tetapi dengan redefinisi (definisi ulang) peran," tegas Ginting.
Langkah penyesuaian yang disarankan mencakup penguatan perlindungan bagi personel, penyesuaian mandat operasional, hingga kemungkinan reposisi tugas. TNI disarankan untuk lebih banyak mengambil peran pada fungsi non-tempur, seperti layanan medis, logistik, dan program rekonstruksi di wilayah konflik.
"Ini memungkinkan Indonesia menjaga komitmen globalnya tanpa mengabaikan keselamatan prajurit," tutur Ginting.
Data Korban dan Kondisi di Garis Depan
Ginting juga menyoroti aspek keadilan bagi para prajurit yang bertugas di area berbahaya. Ia menekankan bahwa personel penjaga perdamaian tidak boleh ditempatkan dalam posisi yang rentan tanpa dukungan perlindungan yang memadai.
"Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh dibiarkan menjadi ÔÇÿpenonton bersenjata ringanÔÇÖ di tengah konflik bersenjata berat," jelas Ginting.
Bila eskalasi konflik terus meningkat, maka penguatan mandat dan dukungan logistik menjadi hal yang wajib dilakukan. Gugurnya Praka Rico Pramudia menambah daftar panjang duka bagi militer Indonesia di Lebanon Selatan.
Praka Rico Pramudia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit St. George, Beirut, pukul 10.32 waktu setempat. Ia menjadi korban serangan artileri yang menghantam pos penugasan kontingen Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar.
Hingga saat ini, tercatat ada empat prajurit TNI yang gugur dalam dua insiden terpisah di wilayah misi UNIFIL Lebanon Selatan. Para prajurit tersebut adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon, dan Praka Rico Pramudia.