Anak Disabilitas di Bekasi Bangun Kepercayaan Diri Lewat Seni Lukis

Anak Disabilitas di Bekasi Bangun Kepercayaan Diri Lewat Seni Lukis
Foto: Ilustrasi Anak Disabilitas di Bekasi Bangun Kepercayaan Diri Lewat Seni Lukis.

Kahlil (12), seorang anak penyandang disabilitas, mengasah kemampuan seni lukisnya di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Kamis (7/5/2026). Aktivitas ini menjadi sarana bagi dirinya untuk membangun rasa percaya diri di tengah keterbatasan fisik.

Bocah yang didiagnosis mengidap Cerebral Palsy (CP) Diplegia Spastik dan epilepsi ini memiliki impian besar untuk menjadi seniman profesional. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, kondisi medis tersebut menyebabkan kekakuan otot permanen pada kedua kakinya serta hambatan gerak pada tangan.

Kahlil mengungkapkan bahwa motivasi utamanya dalam berkarya adalah keinginan untuk memberikan kebahagiaan kepada orang tuanya. Selain fokus pada seni, ia juga menaruh harapan besar pada proses pemulihan kesehatannya di masa depan.

ÔÇ£Keinginan terbesar saya ingin membahagiakan orangtua. Saya juga ingin sembuh dan jadi pelukis terkenal,ÔÇØ ujar Kahlil.

Ketertarikan Kahlil terhadap dunia gambar sudah muncul sejak ia berusia delapan tahun dengan memulai coretan sederhana. Meski sering mengalami kekakuan tubuh saat memegang kuas, ia tetap konsisten mempelajari teknik menggambar karakter dan hewan.

ÔÇ£Sejak kecil saya suka menggambar. Awalnya cuma bisa gambar pemandangan, tapi saya terus belajar sampai sekarang sudah lebih mahir,ÔÇØ ujar Kahlil.

Kemajuan signifikan mulai terlihat sejak Kahlil bergabung dalam program art therapy di STPL pada Juli 2025. Melalui bantuan Taman Baca Inovasi, ia mulai menguasai penggunaan media kanvas dan eksplorasi warna yang sebelumnya terasa sulit.

ÔÇ£Saya sempat ragu-ragu karena pas pakai kuas awalnya susah. Tapi dengan bantuan dari Taman Baca Inovasi, saya sudah lebih percaya diri,ÔÇØ katanya.

Proses pembuatan satu karya lukis biasanya membutuhkan waktu hingga satu bulan karena dikerjakan di sela jadwal terapi rutin. Bagi Kahlil, kegiatan ini juga menjadi jembatan untuk bersosialisasi dan mendapatkan penghasilan dari karya yang dihasilkan.

ÔÇ£Saya senang karena bisa ngobrol sama teman-teman. Terus juga hasil lukisannya bisa dijual,ÔÇØ ujarnya.

Nadia Dara Citrawijaya (37), ibu kandung Kahlil, menjelaskan bahwa keputusan mendaftarkan anaknya ke STPL bertujuan agar putranya mendapatkan wawasan luar. Sebelumnya, Kahlil lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah dan memiliki keterbatasan dalam berinteraksi sosial.

ÔÇ£Saya ingin Kahlil punya pengalaman ke dunia luar karena selama ini dia hanya di rumah. Jadi wawasannya bisa bertambah,ÔÇØ ujar Nadia.

Perkembangan positif terlihat dari perubahan sikap Kahlil yang kini menjadi lebih ceria dan berani dalam menyampaikan pendapat. Nadia mengaku merasa tersentuh melihat potensi besar yang ditunjukkan anaknya melalui goresan warna di atas kanvas.

ÔÇ£Bahagia ya pastinya, ternyata dia punya potensi melukis dan jadi lebih berani,ÔÇØ ujarnya.

Dukungan moral terus diberikan keluarga agar Kahlil tidak merasa minder dengan kondisi fisiknya. Nadia berharap melalui seni, anaknya memiliki bekal kemampuan dan mentalitas yang kuat untuk menghadapi masa depan.

ÔÇ£Harapannya dia lebih berani mencoba, berekspresi, dan bersosialisasi,ÔÇØ tutur Nadia.

Sebagai penutup, Nadia menekankan pentingnya semangat pantang menyerah bagi para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Ia mendorong agar setiap kesempatan yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa rasa berkecil hati.

ÔÇ£Pokoknya jangan pernah putus asa. Teruslah berkembang dan berani mencoba. Kalau ada kesempatan, dicoba saja, jangan berkecil hati,ÔÇØ pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi