Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dilaporkan tengah mempersiapkan gelombang baru serangan militer terhadap Iran pada Jumat (22/5). Langkah strategis ini diambil meskipun upaya diplomasi antarkedua negara dikabarkan masih terus berjalan di balik layar.
Hingga Jumat (22/5) sore waktu setempat, belum ada keputusan final yang diambil terkait eksekusi serangan tersebut, seperti dilansir dari Media Indonesia. Situasi darurat ini memaksa Presiden Trump membatalkan sejumlah agenda pribadi, termasuk rencana menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr., pada akhir pekan ini.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa keadaan yang berkaitan dengan pemerintah mengharuskannya tetap berada di Gedung Putih, alih-alih menghabiskan libur Memorial Day di properti golf miliknya di New Jersey.
Sejumlah anggota militer dan komunitas intelijen Amerika Serikat dilaporkan membatalkan rencana libur mereka guna mengantisipasi kemungkinan serangan. Pejabat pertahanan kini mulai memperbarui daftar panggil (recall rosters) untuk instalasi AS di luar negeri.
Langkah itu dilakukan di tengah rotasi pasukan di Timur Tengah sebagai bagian dari upaya mengurangi jejak militer Amerika di kawasan tersebut sekaligus mengantisipasi potensi pembalasan dari pihak Iran. Sejauh ini, Operation Epic Fury telah menimbulkan kerugian besar bagi AS dengan hancurnya 42 pesawat militer, termasuk F-35 dan F-15, yang diperkirakan menelan biaya penggantian hingga US$7 miliar.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan posisi tegas Presiden Trump mengenai pembatasan nuklir. Angkatan Laut AS melalui Laksamana Brad Cooper selaku komandan CENTCOM juga telah mendesak penambahan senjata penghancur bunker bawah tanah untuk menghadapi fasilitas Iran yang kian masif.
"Presiden memperjelas garis merahnya: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak boleh menyimpan uranium yang diperkaya," ujar Kelly kepada CBS News.
Pernyataan Gedung Putih menambahkan posisi kesiapan militer dalam menghadapi segala opsi kebijakan. Di sisi lain, eskalasi ini turut memicu penurunan kepercayaan ekonomi AS ke level terendah dalam 4 tahun terakhir menurut jajak pendapat Gallup.
"Presiden selalu menjaga semua opsi tetap terbuka setiap saat dan tugas Pentagon untuk siap melaksanakan keputusan apa pun yang dibuat oleh Panglima Tertinggi."
Diplomasi di Ambang Batas
Teheran saat ini sedang meninjau proposal terbaru dari AS untuk mengakhiri perang selama tiga bulan yang mengguncang pasar energi dan memicu lonjakan harga bahan bakar dunia. Proposal tersebut dikirimkan pada Rabu lalu dengan peringatan keras yaitu penolakan terhadap penawaran terakhir ini berarti dimulai kembali serangan militer.
Meskipun ketegangan memuncak, Trump memberikan nada optimistis tetapi waspada mengenai respons dari pihak musuh. Ketegangan kawasan ini juga memicu Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar bersatu mendesak Trump agar mengutamakan jalur perdamaian demi stabilitas ekonomi Teluk.
"Iran sangat ingin membuat kesepakatan. Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Trump pada Jumat.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Komunikasi saat ini dilakukan melalui perantara Pakistan. Rubio menambahkan bahwa meskipun Trump lebih memilih jalur diplomasi, AS menyiapkan Rencana B yang melibatkan kekuatan militer, termasuk opsi untuk membuka kembali Selat Hormuz jika diperlukan.
Dinamika Politik di Washington
Di dalam negeri, upaya politik untuk membatasi wewenang militer Presiden Trump mengalami kegagalan. Partai Republik di DPR AS pada Kamis membatalkan upaya pemungutan suara yang bertujuan membatasi otoritas presiden dalam melakukan operasi militer terhadap Iran, setelah menyimpulkan bahwa mereka kekurangan dukungan yang cukup.
Saat ini, dunia internasional tengah menunggu respons resmi dari Teheran yang diharapkan segera disampaikan melalui saluran diplomatik Pakistan. Keputusan Iran dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah kawasan Timur Tengah akan menuju perdamaian jangka panjang atau eskalasi konflik yang lebih luas.