Sebuah layanan ambulans darurat menjadi korban pesanan palsu atau order fiktif yang diduga dilakukan oleh penagih utang di wilayah Jakarta Pusat pada Selasa (14/4/2026) pukul 16.30 WIB. Insiden ini terungkap setelah rekaman video petugas yang mendatangi lokasi namun tidak menemukan pasien viral di media sosial.
Aksi pesanan palsu tersebut menyasar kantor PT Corfina Capital yang berlokasi di Chubb Square, Jalan Thamrin, Tanah Abang. Petugas medis yang tiba di lokasi mendapati bahwa target penjemputan berinisial BS sedang tidak berada di tempat kerja saat ambulans datang.
Petugas ambulans yang menjadi korban, Yoga Dwi Saputra (27), mengonfirmasi bahwa dirinya bersama direktur operasional berinisial JNS terjebak dalam skenario yang diduga dirancang oleh debt collector. Informasi ini dilansir dari Megapolitan.
"Bapak jangan melecehkan petugas medis. Kalau begini Bapak melecehkan petugas medis," kata salah satu pria berseragam hijau.
Salah satu petugas menyatakan protes keras melalui sambungan telepon kepada pemesan karena merasa integritas layanan medis telah direndahkan. Pelaku yang berada di balik telepon justru menanggapi keluhan petugas tersebut dengan tawa.
"Jadi pukul 16.30 WIB kemarin, Selasa (14/4/2026), kami mendapat laporan permintaan bantuan medis," ujar Yoga, Rabu (15/4/2026).
Yoga menjelaskan kronologi awal penugasan yang mereka terima sore itu. Tim medis langsung bergerak dari kantor pusat mereka di kawasan Permata Hijau menuju lokasi yang disebutkan di Tanah Abang.
"Kami lalu meluncur dari kantor di Permata Hijau ke lokasi. Sampai di lokasi, kami minta izin kepada petugas kantor untuk memberi kami akses masuk," ungkap Yoga.
Setibanya di lantai 8 gedung tersebut, tim medis berkoordinasi dengan staf keamanan dan karyawan setempat. Namun, informasi yang didapat justru menunjukkan adanya ketidaksesuaian data operasional dengan kondisi di lapangan.
"Dibukainlah sama itu staf. Tapi ternyata dijelasin sama mereka, 'ini ada Bang namanya BS ada, cuma itu lagi enggak masuk' " katanya menirukan penjelasan staf kantor.
Karyawan di lokasi menjelaskan bahwa BS adalah seorang manajer di perusahaan tersebut yang sedang tidak bertugas. Kecurigaan Yoga menguat saat nomor pemesan tidak bisa dihubungi kembali menggunakan ponsel pribadinya.
"Saya telepon lagi ke beliau yang memesan, pakai nomor saya enggak diangkat-angkat. Lalu coba telfon pakai nomor staf kantor (PT Corfina)," tutur Yoga.
Upaya menghubungi pelaku akhirnya berhasil dilakukan melalui perangkat telepon milik kantor perusahaan tersebut. Melalui percakapan itulah identitas asli dan motif pemesan mulai teridentifikasi oleh tim ambulans.
"Enggak taunya penagih utang. Iya nomor debt collector itu," katanya.
Pihak manajemen ambulans sempat terlibat adu mulut dengan pria yang teridentifikasi dalam aplikasi kontak sebagai Robertus Ambon. Pelaku kemudian melontarkan pernyataan yang dianggap menghina profesi petugas medis yang telah bekerja.
"Tapi itu cuma ledekan doang dari dia," tutur Yoga.
Tawaran pembayaran ongkos perjalanan dari pelaku dianggap hanya sebagai bentuk ejekan semata. Yoga pun sempat memberikan peringatan keras kepada penelepon tersebut akibat rasa kecewa yang mendalam.
"Saya bilang, 'suatu saat ada debt collector di jalan kenapa-napa, mohon maaf saya enggak bakal bantu' " tutur Yoga.
Pelaku tidak menunjukkan rasa penyesalan dan justru mengancam akan mengirimkan lebih banyak pesanan layanan lain ke kantor BS dalam waktu dekat. Sebelum meninggalkan lokasi, pihak PT Corfina Capital memberikan uang kompensasi sebesar Rp 300.000 kepada tim medis.
"Harapannya sih segera ditangkap itu pelakunya biar efek jera lah," tutur Yoga.