Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani, mengungkapkan pengalaman spiritual mengenai amalan khusus agar dapat kembali menunaikan ibadah haji secara berulang kali di Tanah Suci pada Rabu (29/4/2026).
Kisah tersebut bermula saat keberangkatan haji pertamanya pada tahun 1990 bersama sang ibu, di mana ia bertemu dengan ulama karismatik asal Semarang, Mbah Kiai Umar dari Kauman, sebagaimana dilansir dari Cahaya.
"Mbah Umar itu punya pesantren tahfiz Al-QurÔÇÖan, santrinya digratiskan semua. Semua kebutuhan ditanggung beliau," ungkap KH Achmad Chalwani.
Kiai Chalwani kemudian menemui Mbah Umar yang saat itu tercatat sudah melaksanakan ibadah haji lebih dari 20 kali untuk memohon doa agar dirinya bisa mengikuti jejak serupa. Sang ulama sepuh justru memberikan instruksi yang tidak biasa untuk dilakukan di depan Ka'bah.
"Mbah Umar bilang, nanti kalau kamu di KaÔÇÖbah, tulis saja namamu di KaÔÇÖbah atau di selambunya, pakai jari," tutur KH Achmad Chalwani menirukan KH Umar Semarang.
Instruksi tersebut kemudian dipraktikkan langsung oleh Kiai Chalwani dengan menuliskan namanya sendiri menggunakan jari pada dinding bangunan suci umat Islam tersebut. Ia mengaku merasakan dampak nyata dari tindakan simbolis tersebut dalam perjalanan hidupnya ke depan.
"Ternyata saya berkali-kali haji, saya haji 12 kali lebih," ujarnya sambil tersenyum.
Meski telah merasakan hasilnya, Kiai Chalwani menekankan bahwa tindakan menulis nama tersebut bukanlah sebuah jaminan teknis, melainkan bentuk manifestasi harapan kepada Allah SWT. Perjalanan spiritualnya terus berlanjut hingga ia dipercaya menjadi pembimbing jemaah pada tahun 1992.
"Semoga nanti kalau ke berhaji ingat menuliskan nama di KaÔÇÖbah atau di selambu," kata KH Achmad Chalwani.
Selama menjalankan tugas sebagai pembimbing, ia berkesempatan mendampingi sejumlah ulama besar dari berbagai pesantren terkemuka di Indonesia dalam satu rombongan keberangkatan.
"Saya berangkat haji bareng sama KH Idris Lirboyo, bareng KH Zainuddin Ploso, bareng KH Nur Muhammad Purwokerto dan KH Nur Muhammad Iskandar Jakarta," katanya.
Selain amalan menulis nama, ia juga menyarankan jemaah untuk memperbanyak pembacaan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Ibrahim AS serta melazimkan doa tertentu sebagai bentuk ikhtiar batiniah. Menurutnya, menitipkan doa kepada kerabat yang berangkat juga sangat dianjurkan.
"Kalau punya teman berangkat haji, bisa titip, minta dituliskan nama kita di KaÔÇÖbah pakai jari. Itu sebagai bentuk harapan dan doa," ujarnya.
Di tengah kondisi antrean haji yang semakin panjang, ia mengingatkan para calon jemaah untuk tetap menjaga keteguhan niat dan konsistensi dalam beribadah sebagai faktor penentu utama keberangkatan ke Baitullah.
"Yang penting itu mantap. Niatnya kuat, ikhtiarnya jalan, doanya terus," kata KH Achmad Chalwani.