Alumnus Korea Institute of Science and Technology (KIST) memperingati 60 tahun berdirinya lembaga tersebut dengan menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi riset antara Indonesia dan Korea Selatan. Jaringan alumni ini diproyeksikan menjadi jembatan strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan di kedua negara.
Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, momentum bersejarah ini diwujudkan melalui agenda pertemuan bertajuk Strengthening The KIST-Indonesia Alumni Collaboration Network For Scientific, Industrial, and Policy Cooperation in Commemoration of KIST's 60th Anniversary di Jakarta pada Jumat (22/5).
Acara yang diinisiasi oleh para alumnus ini menghadirkan 18 perwakilan dari tiga sektor utama, yaitu akademisi, lembaga riset pemerintah, dan industri. Ketiga sektor tersebut diwakili oleh Agus Ismail (Universitas Jayabaya), Haznan Abimanyu (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN), serta Bambang Veriansyah (PT Ferron Par Pharmaceuticals).
"Gathering ini bukan sekedar reuni. Ini adalah langkah awal untuk membangun jejaring kolaborasi yang lebih terstruktur antara alumni KIST di Indonesia dengan KIST School, sehingga kontribusi alumni dapat berdampak lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kedua negara," ujar Ketua Panitia Muhammad Suhaeri, dalam keterangan resminya.
Dalam sesi diskusi pleno, Muhammad Suhaeri mengungkapkan bahwa para alumni menyampaikan sejumlah aspirasi strategis dari masing-masing sektor untuk memperkuat peta jalan kolaborasi ke depan.
Dari sektor akademisi, Agus Ismail mengusulkan pembentukan kerja sama Sister Laboratory antara KIST School dengan universitas tempat alumni bernaung di Indonesia. Skema ini diharapkan dapat mendorong pengembangan grup riset di perguruan tinggi Indonesia dengan pendampingan langsung dari KIST.
"Termasuk fasilitasi penulisan hibah penelitian, publikasi, dan paten melalui nota kesepahaman (MoU) formal," kata Suhaeri menjabarkan usulan tersebut.
Dari perspektif lembaga riset, Haznan Abimanyu menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan bersama (joint training) antara KIST dan lembaga penelitian Indonesia, baik dalam manajemen riset maupun keterampilan teknis.
"Ia juga mengusulkan skema pendanaan penelitian kolaboratif melalui joint proposal antara periset Indonesia dan Korea Selatan, serta program pertukaran peneliti berdurasi pendek untuk menjembatani kesenjangan teknologi," ucap Suhaeri.
Sementara itu, Bambang Veriansyah dari sektor industri menekankan pentingnya hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi semata, melainkan dapat diimplementasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pasar.
"Bambang Veriansyah menilai alumni KIST memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara lembaga riset dan pelaku industri, terutama dalam penerapan teknologi tepat guna yang relevan dengan kebutuhan pasar Indonesia," terang Suhaeri.
Muhammad Suhaeri menerangkan, seluruh aspirasi yang terhimpun dari peringatan 60 tahun KIST ini akan disampaikan secara resmi kepada pihak KIST School di Korea Selatan. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan formulasi untuk memperkuat program kolaborasi internasional di masa mendatang.
"Para alumni berharap kerjasama ini dapat menjadi model baru dalam diplomasi ilmu pengetahuan antara Indonesia dengan Korea Selatan," kata Muhammad Suhaeri.