Aktivis Global Sumud Flotilla Laporkan Dugaan Penganiayaan oleh Israel

Aktivis Global Sumud Flotilla Laporkan Dugaan Penganiayaan oleh Israel
Foto: Ilustrasi Aktivis Global Sumud Flotilla Laporkan Dugaan Penganiayaan oleh Israel.

Ratusan aktivis kemanusiaan dari Global Sumud Flotilla (GSF) melaporkan dugaan penganiayaan berat berupa kekerasan seksual dan penyiksaan fisik oleh otoritas Israel saat ditahan. Laporan pemulangan ratusan aktivis lintas negara ini memicu kecaman internasional dari berbagai negara asal korban misi bantuan Gaza tersebut, dilansir dari Media Indonesia.

Pihak penyelenggara flotilla menyatakan ada sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual termasuk pemerkosaan serta puluhan aktivis mengalami patah tulang akibat penganiayaan. Sebanyak 422 orang dari 41 negara dideportasi pada Kamis (23/5) setelah kapal mereka dicegat pasukan komando Israel di perairan internasional awal pekan ini.

Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, memberikan respons tegas setelah menerima informasi mengenai pelecehan mengerikan yang menimpa warga negaranya di dalam tahanan.

"Kanada mengutuk keras perlakuan buruk terhadap warga Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas pelecehan mengerikan ini harus dimintai pertanggungjawaban," tegas Anand dilansir dari BBC, Minggu (24/5).

Kesaksian mengenai tindakan kekerasan seksual dan perabaan paksa juga disampaikan oleh perwakilan relawan yang menjadi korban langsung dalam insiden penahanan tersebut.

"Saya dipukul, ditampar, disentuh, dilutut di bagian tulang rusuk, dan rambut saya ditarik. Saya trauma selama berjam-jam," ungkapnya setibanya di Paris.

Pernyataan serupa disampaikan jurnalis Italia Alessandro Mantovani yang mendeskripsikan fasilitas penahanan sebagai tempat teror. Aktivis Inggris Richard Johan Anderson turut menyuarakan kondisi dehumanisasi sistematis yang mereka alami.

"Kami telah dipukuli, disiksa, didehumanisasi secara sistematis, dan kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami warga Palestina setiap hari," ungkap aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson.

Otoritas Israel membantah keras seluruh tuduhan tersebut melalui pernyataan resmi dari layanan penjara dan pihak militer. Layanan penjara Israel menyebut klaim tersebut palsu tanpa dasar faktual, sementara militer Israel (IDF) menyatakan prosedur mereka mewajibkan perlakuan hormat terhadap peserta flotilla.

Situasi diplomatik kian memanas setelah beredar video Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, yang mengejek para aktivis dalam kondisi terikat. Tindakan ini memicu kritik dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang menyebut aksi tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel.

Kelompok hak asasi manusia Adalah melaporkan adanya cedera luas dan parah di antara para aktivis. Berdasarkan laporan lembaga medis, sedikitnya tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif akibat kekerasan ekstrem oleh otoritas keamanan Israel.

Artikel terkait

Rekomendasi