Aktivis Flotilla Gaza Ungkap Dugaan Penyiksaan oleh Pasukan Israel

Aktivis Flotilla Gaza Ungkap Dugaan Penyiksaan oleh Pasukan Israel
Foto: Ilustrasi Aktivis Flotilla Gaza Ungkap Dugaan Penyiksaan oleh Pasukan Israel.

Ratusan aktivis kemanusiaan dari misi Global Sumud Flotilla membeberkan tindakan kekerasan terencana dan penyiksaan yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap mereka. Laporan mengenai intimidasi fisik hingga pelecehan tersebut disampaikan para relawan setelah mereka dideportasi dan tiba di Istanbul, Turki, pada Jumat, 22 Mei 2026.

Aksi kekerasan brutal yang menimpa para relawan kemanusiaan ini dilansir dari Media Indonesia. Berdasarkan data koordinator misi, sebanyak 428 anggota flotilla sempat ditahan oleh otoritas Israel, termasuk di antaranya sembilan warga negara Indonesia (WNI) dan sebelas warga negara Australia.

Seorang aktivis asal Newcastle, Australia, memberikan kesaksian mengenai kekerasan yang menimpa rekan perempuannya asal Irlandia. Korban dipukuli hingga tersungkur setelah terekam menyuarakan dukungan untuk kemerdekaan Palestina di hadapan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

"Tangan dan kakinya diikat dengan kabel (zip-tied), lalu dia diseret di sekitar pusat pemrosesan sebelum dimasukkan ke bus penjara," ungkap Schofield.

Schofield menambahkan bahwa intensitas kekerasan yang dilakukan oleh para penjaga penjara sangat tidak menentu. Tindakan tersebut sepenuhnya bergantung pada suasana hati petugas yang sedang berjaga pada saat itu.

"Every activist in this flotilla, whether they choose to return or not, their heart is emboldened having witnessed and experienced firsthand the brutality of the Israeli state," pungkas Schofield.

Kesaksian serupa disampaikan oleh pembuat film asal Australia yang menjadi korban pemukulan serta pelecehan seksual di atas kapal penjara. Otoritas militer Israel dilaporkan memukuli sekitar 180 orang tahanan hingga menyebabkan sedikitnya 40 aktivis mengalami patah tulang.

Para tahanan juga menghadapi penyiksaan posisi yang menyakitkan, sengatan listrik, penempatan di kontainer yang padat dan dingin, hingga pemindahan sel setiap jam. Selain itu, Menteri Itamar Ben-Gvir memicu kecaman global setelah mengunggah video yang mengejek para aktivis saat sedang berlutut dalam kondisi terikat.

Kekerasan fisik lainnya dialami oleh seorang mahasiswa asal Melbourne yang kepalanya dibenturkan ke meja oleh tentara Israel. Petugas juga menggunakan tang untuk menarik paksa anting-anting yang digunakannya selama masa penahanan.

"Ini pengingat fisik bahwa meskipun kami dianiaya, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami warga Palestina setiap hari," ujarnya OÔÇÖConnor.

Duta Besar Israel untuk Australia, Hillel Newman, membantah seluruh laporan kekerasan tersebut. Newman mengklaim bahwa seluruh peserta flotilla yang berjumlah lebih dari 400 orang ditangani dengan sensitivitas tinggi dan tidak ada satu pun yang terluka.

Pernyataan sepihak tersebut berbanding terbalik dengan laporan tim koordinator di lapangan yang mencatat seluruh aktivis Australia membutuhkan pertolongan pertama. Pasca-pembebasan, tiga relawan di antaranya bahkan harus segera dilarikan ke rumah sakit di Turki akibat luka memar dan kulit robek.

Artikel terkait

Rekomendasi