Aktivis Dian Septi Ungkap Rentetan Intimidasi Selama Dua Dekade

Aktivis Dian Septi Ungkap Rentetan Intimidasi Selama Dua Dekade
Foto: Ilustrasi Aktivis Dian Septi Ungkap Rentetan Intimidasi Selama Dua Dekade.

Memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), buruh, serta perempuan telah menjadi komitmen hidup bagi Dian Septi Trisnanti (41). Seperti dikutip dari Megapolitan, keterlibatannya dalam gerakan sosial bermula sejak usia 17 tahun saat aktif di organisasi mahasiswa di Yogyakarta pada 2001.

Selama lebih dari dua dekade, Dian mendampingi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari korban penggusuran hingga buruh perempuan di Jakarta. Namun, dedikasi tersebut kerap berujung pada ancaman fisik, intimidasi dari aparat, hingga serangan di ruang siber.

"Sering," ujar Dian saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (8/5/2026), ketika ditanya soal intimidasi atau teror yang pernah dialaminya.

Salah satu insiden paling traumatis bagi Dian adalah ketika sekretariat organisasinya di Yogyakarta diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal yang membawa senjata tajam dan bahan peledak.

ÔÇ£Mereka melempar sekretariat kami dengan molotov, mereka membawa samurai dan masuk ke sekretariat kami,ÔÇØ ujar Dian.

Dian mengenang momen ketika ia terjebak di bawah meja makan selama sekitar 30 menit demi menyelamatkan diri dari kepungan asap dan ancaman senjata.

ÔÇ£Di tengah asap molotov, saya melihat beberapa pedang samurai diseret menyentuh lantai,ÔÇØ katanya.

Kekerasan fisik juga ia alami saat melakukan aksi unjuk rasa, termasuk bentrokan dengan aparat di depan Kodim DIY. Meski rekan-rekannya mengalami luka-luka, Dian tetap melanjutkan pendampingan bagi warga korban gempa Yogyakarta 2006 dan penggusuran di Parangtritis.

ÔÇ£Saya meliput sebagai jurnalis, sekaligus mengadvokasi warga korban gempa, termasuk perempuan, ibu, dan anak-anak,ÔÇØ ujarnya.

Pemberdayaan Melalui Radio Komunitas

Setelah pindah ke Jakarta pada 2009, Dian mulai mengorganisir warga di Tanah Merah dan buruh perempuan di kawasan industri KBN Cakung. Langkah ini membuahkan hasil dengan terbentuknya Forum Buruh Lintas Pabrik pada 2010.

Dian kemudian mendirikan radio komunitas Marsinah FM pada 2012 sebagai wadah bagi buruh perempuan untuk menyuarakan ketidakadilan. Baginya, radio tersebut merupakan ruang aman untuk membangun keberanian kolektif.

ÔÇ£Melatih buruh perempuan berbicara lewat radio, meningkatkan kepercayaan diri sebagai perempuan yang selama ini ditindas dan dibiasakan diam,ÔÇØ katanya.

Motivasi Dian dalam bergerak juga didasari oleh pengalaman pribadinya sebagai penyintas kekerasan seksual yang menemukan kekuatan melalui feminisme.

ÔÇ£Feminisme menyelamatkan hidup saya,ÔÇØ ujarnya.

Dian menegaskan bahwa dukungan komunitas merupakan faktor utama yang membuatnya mampu bertahan dari berbagai tekanan kekuasaan.

ÔÇ£Dengan berkolektif, saya tidak merasa sendirian,ÔÇØ katanya.

Represi dan Ancaman Digital yang Berlanjut

Tekanan terhadap Dian terus berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya, termasuk penangkapan dirinya bersama 25 aktivis lain saat demonstrasi menolak PP Nomor 78 Tahun 2015. Mereka harus menjalani proses persidangan selama satu tahun sebelum akhirnya divonis bebas.

ÔÇ£Saya kena pukul dan ditangkap bersama 25 aktivis lainnya. Waktu itu persidangan berlangsung selama setahun dan akhirnya kami diputus bebas. Termasuk dua pengacara LBH Jakarta, satu mahasiswa, dan 23 aktivis buruh,ÔÇØ katanya.

Teror juga merambah ke ranah digital melalui pesan ancaman pembunuhan, doxing, hingga peretasan nomor telepon yang dialaminya saat pandemi Covid-19. Bahkan pada 2025, ia mengaku masih sering dikuntit oleh orang asing saat melakukan perjalanan untuk memberikan pendidikan buruh.

ÔÇ£Ada orang asing mengikuti sampai ke toilet perempuan atau ruang tunggu,ÔÇØ katanya.

Insiden lain terjadi setelah ia meliput kematian seorang pengemudi ojek online pada Agustus 2025, di mana seseorang tak dikenal mencoba memaksa masuk ke kamar hotel tempatnya menginap.

ÔÇ£Dia bilang, ÔÇÿBetul kan nomor 5**, aku sudah di depan kamarnya ini?ÔÇÖÔÇØ tutur Dian.

Dian menjelaskan bahwa ancaman terhadap aktivis perempuan sering kali menyasar tubuh sebagai alat untuk membungkam suara mereka.

ÔÇ£Tubuh kami menjadi sasaran untuk ditundukkan, biar menyerah, berhenti, bila perlu hidup kami hancur supaya tidak mengganggu kekuasaan dan sistem yang represif,ÔÇØ ujar Dian.

Untuk menjaga keamanan, Dian lebih memilih saling menjaga di dalam lingkaran kolektif daripada melapor ke penegak hukum, mengingat pelaku represifitas sering kali berasal dari pihak berkuasa.

ÔÇ£Paling aman adalah saling jaga di dalam kolektif,ÔÇØ katanya.

Ia berharap adanya perlindungan nyata dari negara bagi pembela HAM, namun ia menyadari bahwa perubahan hanya akan terjadi jika masyarakat terus bergerak.

ÔÇ£Tidak ada satupun aktor kekuasaan yang melepas privilege dan kuasanya secara sukarela,ÔÇØ ujarnya.

Meski risiko terus mengintai, Dian memastikan tidak akan menghentikan aktivitas advokasinya di bidang HAM dan hak perempuan.

ÔÇ£Karena itu sudah menjadi jalan hidup yang saya pilih,ÔÇØ kata Dian.

Artikel terkait

Rekomendasi