Sejumlah akademisi dan guru besar mengkritik fenomena birokratisasi serta penerapan logika pasar dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia. Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi meja bundar yang diselenggarakan oleh Program Studi Sosiologi Universitas Nasional (Unas) di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Orientasi perguruan tinggi dinilai perlu dikembalikan pada esensinya sebagai pilar pembangun peradaban melalui pengetahuan, bukan sekadar pencetak lulusan. Kehadiran negara juga dipandang krusial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan sesuai amanat konstitusi sekaligus mendorong kontribusi nyata kampus bagi masyarakat.
"Manusia tidak diciptakan karena teknologi, melainkan karena mental dan nilai-nilai kemanusiaan,ÔÇØ kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Nasional (Unas) Prof Erna Ermawati Chotim.
Kritik terhadap beban administratif kampus juga disuarakan oleh pihak dekanat. Sistem pelaporan yang rumit dinilai berpotensi mengikis peran kritis ilmu sosial dalam menjaga akal sehat publik.
ÔÇ£Hari ini kampus sering dituntut jadi serba terukur, penuh laporan, capaian, dan birokrasi. Padahal ilmu sosial memiliki tugas menjaga akal sehat publik dan merawat kepekaan sosial masyarakat,ÔÇØ ujar Dekan Fisip Unas Aos Yuli Firdaus.
Aos menambahkan bahwa perguruan tinggi wajib berfungsi sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial serta menunjukkan keberpihakan pada masyarakat luas.
ÔÇ£Untuk itu, saya mengapresiasi prodi Sosiologi yang menghadirkan forum ini,ÔÇØ tambah Aos.
Ketua Program Studi Sosiologi Fisip Unas, Andi Achdian, menilai forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tradisi intelektual di lingkungan kampus.
ÔÇ£Program studi Sosiologi memiliki kekuatan akademik yang luar biasa dengan hadirnya empat profesor yang terus mendorong tradisi berpikir kritis di lingkungan akademik,ÔÇØ katanya.
Forum ini mempertemukan dosen, mahasiswa, dan para guru besar guna membedah tantangan mulai dari birokratisasi, logika pasar, hingga memudarnya budaya berpikir kritis. Salah satu panelis menekankan bahwa daya kritis merupakan esensi dasar dari ilmu sosiologi itu sendiri.
ÔÇ£Kritik dan sikap kritis adalah DNA-nya sosiologi. Karena itu, ruang-ruang diskusi seperti ini penting untuk terus dirawat,ÔÇØ ungkap Prof Sigit Rochadi.
Di sisi lain, munculnya wacana penutupan atau pemecahan program studi tertentu berbasis efisiensi finansial memicu kekhawatiran mengenai komersialisasi pengetahuan.
ÔÇ£Kita tidak hanya sedang berbicara tentang persoalan personal, tetapi tentang masa depan ilmu pengetahuan di Indonesia. Hari ini muncul wacana pemecahan program studi lantaran dianggap tidak diminati dan dinilai dari sisi efisiensi finansial. Ini menunjukkan pendidikan mulai dilihat dengan logika pasar, sementara ilmu pengetahuan dinilai berdasarkan aspek ekonominya,ÔÇØ jelas Prof Aris Munandar.
Menurut Aris, situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia akademik dalam mempertahankan hakikat pendidikan sebagai ruang pencarian pengetahuan.
Di tengah perubahan global yang kompetitif, mahasiswa juga didorong untuk membangun kepercayaan diri serta keberanian mengambil peluang.
"Keberanian untuk tampil, berpikir, dan mengambil peluang merupakan bekal yang penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial di masa depan," pungkas Prof Syamsiah Badrudin.
Mahasiswa diharapkan tidak hanya berfokus mencari pekerjaan setelah lulus, melainkan mampu menjadi agen perubahan yang menciptakan lapangan kerja baru.
ÔÇ£Jadikan diri Anda sebagai nilai. Bukan cuma mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta perubahan bagi masyarakat, dan tidak mungkin ada perubahan tanpa perubahan,ÔÇØ tutup Prof Paisal Halim.