Ilmuwan dari Universitas King Fahd untuk Perminyakan dan Mineral mengidentifikasi penggunaan air limbah olahan sebagai solusi strategis untuk mengatasi penipisan akuifer di Arab Saudi. Langkah ini diproyeksikan mampu menekan pengambilan air tanah non-terbarukan di wilayah timur hingga sepertiga dari total penggunaan saat ini.
Kondisi krisis air di negara tersebut dipicu oleh fakta bahwa lebih dari dua pertiga air irigasi dan sepertiga air minum berasal dari air tanah. Namun, sebagaimana dilansir dari Lestari, laju pengambilan air dari akuifer kini telah melampaui kemampuan pengisian ulangnya secara alami.
Data penelitian menunjukkan volume pembuangan air limbah mencapai sekitar 1,6 miliar meter kubik per tahun. Jumlah tersebut setara dengan 60 persen dari total kebutuhan air minum perkotaan tahunan di Arab Saudi, namun selama ini sumber daya tersebut cenderung terabaikan.
Peneliti Mohammed Benaafi menjelaskan bahwa limbah cair tersebut merupakan aset krusial untuk menjaga stabilitas pasokan air di kawasan yang gersang. Eksperimen laboratorium dilakukan untuk memastikan keamanan proses injeksi air olahan ke dalam akuifer pesisir guna mendukung pengisian ulang yang terkelola.
"Ini adalah aset strategis yang dapat dimanfaatkan untuk pengisian ulang akuifer," ujar Benaafi, Peneliti di Universitas King Fahd untuk Perminyakan dan Mineral.
Tim peneliti menguji berbagai tingkat kualitas air dan laju injeksi untuk meminimalkan risiko teknis. Hasil studi memperingatkan bahwa penggunaan air limbah berkualitas rendah dengan volume tinggi justru mempercepat penyumbatan sistem, sehingga diperlukan optimasi strategi pengolahan agar aliran tetap terjaga.
Penerapan strategi yang dioptimalkan tidak hanya mengurangi tekanan pada akuifer yang menipis, tetapi juga mengubah paradigma pengelolaan limbah menjadi pengelolaan sumber daya. Pendekatan ini memperkuat keamanan air jangka panjang dengan meminimalkan dampak pada kualitas air tanah yang tersisa.
"Penggunaan air limbah yang telah diolah dalam pengisian ulang akuifer yang terkelola memberikan solusi berkelanjutan untuk mengurangi tekanan pada air tanah yang tidak dapat diperbarui dan mengurangi penipisan akuifer di daerah kering," tutur Benaafi, Peneliti di Universitas King Fahd untuk Perminyakan dan Mineral.
Melalui bukti ilmiah tersebut, pemanfaatan air limbah terolah menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah non-terbarukan hingga 30 persen di bagian timur Arab Saudi. Transformasi ini menjadi krusial bagi daerah-daerah dengan tingkat kelangkaan air tinggi di seluruh dunia.