Otoritas kesehatan mengidentifikasi Leo Schilperoord, seorang ornitolog asal Belanda, sebagai terduga 'patient zero' atau pasien nol dalam wabah hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius pada April 2026. Penemuan ini menjadi titik terang dalam pelacakan penyebaran virus Andes yang langka di antara penumpang kapal.
Dilansir dari Detik Health, Schilperoord bersama istrinya, Mirjam, sempat menjelajahi wilayah Amerika Selatan sebelum naik ke kapal pada 1 April. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pasangan tersebut melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay untuk melakukan pengamatan burung.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa paparan virus terjadi saat pasangan tersebut mengunjungi habitat hewan pengerat. WHO menduga infeksi bersumber dari lokasi pembuangan sampah di luar Ushuaia, Patagonia, yang merupakan tempat favorit pengamat burung untuk melihat spesies langka.
"Kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung," tulis WHO dalam laporannya.
Data medis menunjukkan Schilperoord mulai merasakan gejala fisik pada 6 April dan meninggal dunia saat kapal masih berada di laut pada 11 April. Sementara itu, istrinya menunjukkan gejala gangguan pencernaan dan baru turun dari kapal di Saint Helena pada 24 April sebelum kondisinya memburuk drastis.
"Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," kata WHO.
Kematian Mirjam menyusul suaminya satu hari kemudian setelah sempat mendapatkan perawatan medis darurat. Kasus ini menjadi perhatian serius karena virus Andes memiliki kemampuan unik untuk menular antarmanusia melalui kontak dekat.
"Ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg," sambung WHO.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan catatan khusus terkait sulitnya identifikasi awal kasus ini. Gejala yang menyerupai penyakit pernapasan umum membuat tim medis di kapal tidak langsung mencurigai adanya hantavirus pada saat kejadian.
Saat ini, pelacakan kontak internasional masih dilakukan terhadap penumpang asal Amerika Serikat dan Eropa. Para ahli terus memantau perkembangan kesehatan para pelancong guna mencegah penyebaran lebih luas dari jenis hantavirus yang mematikan ini.