Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa wabah Hantavirus yang menewaskan tiga orang di kapal pesiar MV Hondius bukan merupakan ancaman pandemi baru. Risiko kesehatan publik secara global saat ini dinilai masih rendah karena karakteristik virus yang berbeda dengan Covid-19.
Dilansir dari Nasional, kasus ini mengemuka pada Sabtu (9/5/2026) melalui penjelasan para pakar kesehatan mengenai sifat virus yang sudah ada sejak 1976 tersebut. Karakteristik penularan Hantavirus dianggap jauh lebih sulit dibandingkan virus korona yang sempat melumpuhkan dunia beberapa tahun silam.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menegaskan bahwa situasi di kapal pesiar tersebut belum memenuhi kriteria pandemi. Menurutnya, syarat utama penyebaran massal belum tercapai meskipun tingkat fatalitas pada kasus tertentu cukup tinggi.
"Secara umum penularan Hantavirus itu berbeda jauh dengan Covid-19, tidak semudah Covid-19," kata Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Dicky memaparkan sejarah virus ini yang pertama kali terdeteksi di Sungai Hantan, Korea Selatan, pada tikus sawah. Ia juga menyoroti peristiwa di Four Corners, Amerika Serikat, tahun 1993 yang melibatkan strain Sin Nomere Virus dengan tingkat kematian mencapai 50 persen.
"Itu yang membuat heboh saat itu," beber Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Meskipun vaksin belum diproduksi secara massal, syarat ketiga yaitu penularan antarmanusia yang efektif belum terpenuhi oleh sebagian besar strain Hantavirus. Dari puluhan jenis yang ada, hanya strain Andes yang diketahui memiliki kemampuan transmisi antarmanusia namun dalam skala terbatas.
"Alhamdulillah, memang belum memenuhi kriteria yang paling penting ini, meskipun ada strain Andes dari Hantavirus ini, yang bisa menyebabkan penularan antar manusia tapi relatif terbatas," kata Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Saat ini sebaran kasus masih terlokalisir pada habitat hewan pengerat seperti gudang makanan dan pelabuhan. Masyarakat diminta tetap tenang karena dunia internasional terus memantau pergerakan virus ini tanpa menganggapnya sebagai ancaman darurat global saat ini.
"Ini memang penyakit yang tidak boleh diabaikan, namun tidak boleh atau jangan sampai membuat kepanikan yang tidak perlu," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, turut memberikan pandangan serupa mengenai pola penyebaran virus tersebut. Ia menekankan bahwa risiko penularan pada manusia memerlukan interaksi yang sangat spesifik dengan sumber virus.
"Ini biasanya menularnya dari rodent ya, dari tikus. Dan penularan antar manusia itu hanya bisa terjadi melalui kontak erat yang berkepanjangan," tutur Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Upaya pencegahan paling efektif menurut IDAI adalah melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Piprim menekankan pentingnya higiene dasar seperti mencuci tangan karena belum tersedianya vaksin untuk virus ini.
"Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Enggak macam-macam, karena virus seperti ini, kita juga enggak punya vaksinnya seperti apa, tetapi setiap penyakit menular memang kuncinya adalah di PHBS, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Rajin cuci tangan ya, kemudian higiene dan sanitasi," sebut Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Dicky Budiman menambahkan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan terutama saat musim hujan atau banjir dengan menghindari kontak langsung dengan air kotor. Ia juga menyarankan penggunaan pelindung kaki dan tangan saat beraktivitas di area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
"Terutama kalau musim hujan atau banjir, jangan kontak langsung dengan air kotor dan gunakan alas kaki atau pelindung. Kalau ada demam, nyeri otot, sesak napas terutama kalau lingkungannya sanitasi buruk, harus ke dokter," kata Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Indonesia memiliki risiko kerentanan karena populasi hewan pengerat yang tinggi dan sistem sanitasi yang belum sempurna di beberapa wilayah. Kelompok pekerja seperti petugas kebersihan, buruh gudang, dan petani menjadi pihak yang paling rawan terpapar virus ini.
"Kelompok yang lebih rentan antara lain adalah petugas kebersihan, tukang sampah gitu ya, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di area banjir dan orang-orang yang sering terpapar lingkungan tertutup kotor dengan infestasi tikus," kata Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Secara medis, Hantavirus dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan gagal napas akut yang menyerupai Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat dalam hitungan hari jika tidak segera ditangani secara medis.
"Jadi secara medis kondisi ini menyerupai yang disebut dengan ARDS atau Acute Respiratory Distress Syndrome," tutur Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Tingkat fatalitas pada kasus berat dilaporkan bisa menyentuh angka 40 persen. Dicky menjelaskan bahwa penyebab kematian bukan hanya karena virus itu sendiri, melainkan reaksi tubuh yang ekstrem terhadap infeksi tersebut.
"Jadi yang mematikan bukan hanya virusnya tapi respons inflamasi berat dan kerusakan paru yang sangat cepat," kata Dicky Budiman, Epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia.
Pakar Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada, memerinci berbagai strain virus dan wilayah penyebarannya. Ia menjelaskan perbedaan gejala antara strain yang menyerang pernapasan di Amerika dan strain yang menyebabkan gangguan ginjal di Asia serta Eropa.
"Yang di Eropa dan Asia itu seringkali adalah demam perdarahan, yang akhirnya nanti menjadi HFRS. Di Eropa-Asia ini kita belum menemukan penularan dari orang ke orang. Semuanya dari tikus," kata Dominicus Husada, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI.
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 orang terkonfirmasi positif Hantavirus varian Seoul di 9 provinsi Indonesia sepanjang tahun 2024-2026. Dominicus memastikan bahwa varian Andes yang bisa menular antarmanusia belum ditemukan di tanah air.
"Jadi kita belum pernah menemukan virus Andesnya di Indonesia. Jadi di Indonesia itu penularannya murni terjadi dari tikus," kata Dominicus Husada, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI.