Ade Armando secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari keanggotaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini diambil setelah dirinya dilaporkan oleh 40 organisasi kemasyarakatan (ormas) ke pihak kepolisian atas tuduhan dugaan penodaan agama.
Keputusan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya kelompok-kelompok tertentu yang dinilai memanfaatkan isu tersebut untuk menyerang PSI secara sistematis. Dilansir dari Nasional, Ade menegaskan bahwa pengunduran diri ini dilakukan demi menjaga stabilitas partai dan kebaikan bersama seluruh pihak yang terlibat.
"Melalui konferensi pers ini, saya menyatakan mengundurkan diri dari PSI. Tidak ada konflik di antara saya dengan PSI, tapi saya mundur demi kebaikan bersama,ÔÇØ ujar Ade Armando dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Akademisi Universitas Indonesia ini menekankan bahwa segala tindakan serta pernyataan yang ia keluarkan merupakan bentuk tanggung jawab individu. Ia juga mengklarifikasi bahwa aktivitasnya di media sosial selama ini adalah bagian dari kerja jurnalistik pribadi yang tidak memiliki kaitan dengan arah kebijakan politik PSI.
"Jadi kritik-kritik saya tidak pernah saya konsultasikan ke pimpinan PSI, tidak pernah saya tanyakan dulu kepada PSI, itu adalah sepenuhnya kerja jurnalistik saya,ÔÇØ sambung Ade Armando.
Ade Armando memiliki rekam jejak panjang di dunia akademik dan media sebelum terjun ke politik. Pria kelahiran 24 September 1961 ini merupakan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia yang kemudian meraih gelar Master of Science dari Florida State University serta gelar doktor dari universitas yang sama dengan tempatnya mengajar.
Karier profesionalnya mencakup posisi strategis seperti redaktur harian Republika, anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2004ÔÇô2007, hingga menjabat sebagai Komisaris PLN Nusantara Power. Di internal PSI, ia sebelumnya dipercaya mengemban amanah sebagai juru bicara partai sejak bergabung pada tahun 2022.
Meskipun pernah maju sebagai calon anggota legislatif dari daerah pemilihan DKI Jakarta II pada Pemilu 2024, Ade belum berhasil melenggang ke parlemen. Hingga saat ini, ia dikenal publik sebagai sosok yang vokal dalam menyampaikan kritik di platform media sosial sebelum akhirnya memutuskan hengkang dari partai tersebut.