ACOLA Dorong Riset Interdisipliner Atasi Masalah Adaptasi Iklim

ACOLA Dorong Riset Interdisipliner Atasi Masalah Adaptasi Iklim
Foto: Ilustrasi ACOLA Dorong Riset Interdisipliner Atasi Masalah Adaptasi Iklim.

Kolaborasi riset lintas disiplin ilmu dan kemitraan strategis menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan persoalan adaptasi iklim, transisi energi, hingga pertumbuhan ekonomi pada Rabu (29/4/2026). Pendekatan ini dinilai krusial karena kompleksitas tantangan yang mencakup dimensi sosial-ekonomi dan politik secara simultan.

Sebagaimana dilansir dari Lestari, keragaman perspektif diperlukan agar solusi yang dihasilkan tidak terjebak pada aspek teknis kebijakan semata. Pendekatan terintegrasi tersebut diharapkan mampu menjawab isu ketahanan bencana serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif.

CEO Australian Council of Learned Academies (ACOLA), Prerana Mehta, menekankan bahwa permasalahan global saat ini tidak bisa diselesaikan secara parsial oleh satu lembaga saja dalam acara Knowledge and Innovation Exchange.

"(Isu-isu itu) tidak berada dalam satu disiplin ilmu saja. Isu-isu itu tidak berada dalam satu kementerian pemerintah atau satu departemen pemerintah dan tidak dapat diselesaikan oleh satu industri atau satu sektor yang bertindak sendiri," ujar Prerana Mehta, CEO Australian Council of Learned Academies (ACOLA).

Prerana menjelaskan bahwa riset interdisipliner harus mampu menciptakan pengetahuan yang memiliki relevansi kuat terhadap pengambilan kebijakan. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan sejak tahap awal riset menjadi penentu efektivitas hasil penelitian tersebut.

"Dalam praktiknya, kerja sama yang efektif berjalan lebih jauh lagi. Ini membawa pembuat kebijakan, komunitas industri, dan pengguna akhir ke dalam proses sejak awal. Dan saat itulah penelitian menjadi bukan hanya ketat, tetapi menjadi dipercaya. Bukan hanya berwawasan luas, tetapi dapat ditindaklanjuti," tutur Prerana Mehta, CEO Australian Council of Learned Academies (ACOLA).

Selain aspek disiplin ilmu, faktor inklusi sosial seperti kesetaraan gender dan keterlibatan penyandang disabilitas serta pemuda dipandang sebagai komponen inti yang menentukan dampak riset. Ketidakhadiran elemen inklusi ini sering kali menjadi paradoks dalam penelitian mengenai iklim.

"Ketika kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial termasuk dari pemuda bersama dengan keragaman lintas disiplin tertanam secara bermakna dalam kemitraan penelitian, Anda benar-benar memiliki dampak," ucap Prerana Mehta, CEO Australian Council of Learned Academies (ACOLA).

Penerapan sikap inklusif diklaim dapat memperluas cakupan bukti dan solusi yang dimungkinkan dalam sebuah penelitian. Hal ini pada akhirnya akan membuat adopsi kebijakan menjadi lebih efektif, baik untuk skala lokal maupun kebutuhan nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi