7 Fakta Terbaru Perayaan Waisak 2026 di Borobudur yang Banyak Dicari Wisatawan

7 Fakta Terbaru Perayaan Waisak 2026 di Borobudur yang Banyak Dicari Wisatawan
Foto: 7 Fakta Terbaru Perayaan Waisak 2026 di Borobudur yang Banyak Dicari Wisatawan. (Illustration by Pexels)

Candi Borobudur akan kembali menjadi pusat perhatian dunia pada akhir pekan ini. Perayaan Hari Raya Waisak dijadwalkan berlangsung di bangunan bersejarah tersebut pada tanggal 31 Mei.

Sejarah panjang perayaan Waisak di tempat ini sebenarnya sudah dimulai sejak masa Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8. Saat itu, Borobudur berfungsi sebagai pusat peribadatan umat Buddha yang paling besar.

Namun, tradisi spiritual tersebut sempat terhenti selama berabad-abad lamanya. Hal ini terjadi setelah pusat kerajaan berpindah dan candi megah tersebut sempat terkubur oleh tanah serta abu vulkanik.

Borobudur akhirnya terbangun dari tidur panjangnya dan kembali digunakan untuk kegiatan keagamaan. Perayaan Waisak era modern pertama kali diselenggarakan kembali pada tahun 1929 oleh komunitas spiritual tertentu.

Momentum ini kemudian berlanjut menjadi perayaan nasional besar-besaran pada tahun 1953. Pelaksanaannya saat itu dipelopori oleh tokoh agama Buddha terkemuka, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.

Setelah pemerintah menetapkan Waisak sebagai hari libur nasional pada tahun 1983, status Borobudur semakin diperkuat. Candi ini diakui secara resmi sebagai Warisan Dunia oleh organisasi UNESCO.

Seiring berjalannya waktu, perayaan ini bertransformasi menjadi sebuah festival spiritual internasional yang sangat ikonik. Salah satu ciri khas yang paling dikenal masyarakat luas adalah tradisi pelepasan ribuan lampion ke angkasa.

Kini, perayaan tersebut bukan sekadar ritual agama, melainkan simbol toleransi dan harmoni budaya. Borobudur telah menjadi saksi bisu kebersamaan masyarakat dunia dalam bingkai spiritualitas.

Fakta Menarik Seputar Perayaan Waisak di Borobudur

Daftar fakta unik yang perlu diketahui mengenai perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur:

  • Pusat Perayaan Nasional: Meskipun terdapat banyak candi Buddha lainnya di Indonesia, Borobudur tetap menjadi lokasi utama rangkaian Waisak nasional.
  • Ritual Pengambilan Api dan Air: Prosesi ini melibatkan elemen alam berupa api abadi dari Mrapen dan air berkah dari umbul Jumprit.
  • Kirab Budaya: Umat melakukan jalan kaki sejauh 3,5 kilometer dari Candi Mendut menuju Borobudur sebagai bentuk penghormatan.
  • Tradisi Pindapata: Para biksu berjalan membawa mangkuk untuk menerima donasi dari masyarakat sebagai simbol pelepasan sifat keduniawian.
  • Penentuan Waktu Astronomis: Puncak Waisak ditentukan berdasarkan posisi bulan purnama sidereal atau purnama sidi secara presisi.
  • Pelepasan Lampion: Ribuan lampion diterbangkan sebagai simbol doa, harapan, dan perdamaian bagi seluruh makhluk di alam semesta.
  • Peringatan Tiga Peristiwa: Waisak merayakan kelahiran, pencerahan sempurna, dan wafatnya Buddha Gautama pada hari yang sama.

Poin-poin di atas menunjukkan betapa sakral dan megahnya perayaan yang setiap tahunnya menarik ribuan wisatawan dan peziarah ini. Setiap tahapan memiliki makna filosofis yang sangat dalam bagi umat Buddha.

Makna di Balik Ritual Api dan Air

Detail mengenai makna filosofis dari dua elemen penting dalam prosesi Waisak:

Elemen Ritual Sumber Pengambilan Simbol dan Makna
Api Abadi Mrapen, Grobogan Melambangkan penerangan jiwa dan upaya menghapus kekesalan hidup.
Air Berkah Umbul Jumprit, Temanggung Melambangkan ketenangan batin, pembersihan diri, dan kesucian spiritual.

Kedua elemen suci ini tidak langsung dibawa ke Borobudur, melainkan disemayamkan terlebih dahulu di Candi Mendut. Setelah itu, barulah api dan air tersebut dibawa dalam barisan kirab menuju candi utama.

Penentuan Detik-Detik Waisak

Berbeda dengan hari raya agama lain yang tanggalnya menetap pada kalender tertentu, puncak Waisak mengikuti perhitungan astronomi. Penentuan ini dilakukan berdasarkan posisi bumi, matahari, dan bulan yang berada dalam satu garis lurus.

Fenomena ini dikenal sebagai purnama sidi, di mana bulan akan bersinar dengan cahaya paling terang. Hal inilah yang menyebabkan puncak detik-detik Waisak bisa jatuh pada waktu yang berbeda-beda setiap tahunnya.

Terkadang prosesi puncak terjadi pada pagi hari, siang bolong, ataupun saat tengah malam. Umat akan menyesuaikan jadwal ibadah mereka dengan perhitungan sains astronomi modern tersebut.

Festival Lampion dan Makna Tri Suci

Bagi masyarakat umum, pelepasan lampion di lapangan Aksobya merupakan atraksi yang paling ditunggu. Namun, bagi umat Buddha, kegiatan ini jauh lebih dalam daripada sekadar nilai estetika untuk kebutuhan dokumentasi foto.

Menerbangkan lampion adalah simbol melepaskan segala hal negatif yang ada di dalam diri manusia. Cahaya lampion yang naik ke langit membawa harapan agar perdamaian dan kebaikan menyelimuti seluruh dunia.

Secara keseluruhan, perayaan Tri Suci Waisak ditujukan untuk menghormati tiga momen krusial dalam kehidupan Buddha Gautama. Ketiga peristiwa besar tersebut terjadi pada hari purnama yang sama di tahun yang berbeda.

Peristiwa tersebut dimulai dari lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 563 SM. Kemudian dilanjutkan dengan pencapaian Penerangan Sempurna beliau menjadi Buddha di Bodhgaya pada 528 SM.

Rangkaian ini ditutup dengan peringatan Parinibbana atau wafatnya Buddha Gautama di Kusinara pada 483 SM. Ketiga memori agung inilah yang terus dijaga dan dirayakan oleh jutaan umat di Candi Borobudur.

Artikel terkait

Rekomendasi