Imbal hasil obligasi atau yield di zona euro mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada perdagangan Senin (18/5/2026). Aksi jual obligasi global ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap lonjakan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga energi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Seperti dikutip dari Internasional, imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun yang menjadi acuan utama di kawasan zona euro sempat menyentuh angka 3,193 persen. Angka tersebut menandai level tertinggi dalam 15 tahun terakhir, sebelum akhirnya bergerak turun tipis ke posisi 3,16 persen pada penutupan perdagangan.
Para pelaku pasar khawatir bahwa lonjakan harga energi akibat konflik Iran dapat mengerek inflasi ke tingkat yang lebih tinggi. Situasi ini dinilai berpotensi memicu bank sentral untuk mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut dalam waktu dekat.
Di sisi lain, pergerakan berbeda terjadi pada imbal hasil obligasi Italia tenor 10 tahun yang mencatatkan penurunan sebesar 1 basis poin ke level 3,93 persen. Penurunan ini terjadi setelah instrumen tersebut sempat menyentuh level tertingginya dalam kurun waktu enam pekan terakhir.
Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Christine Lagarde memberikan respons terkait dinamika yang terjadi di pasar keuangan saat ini. Christine Lagarde menegaskan bahwa volatilitas yang terjadi di pasar obligasi selalu menjadi perhatian utama bagi otoritas moneter kawasan tersebut.
"Saya selalu khawatir, itu tugas saya," ujarnya.
Tekanan yang melanda pasar obligasi Eropa juga tidak terlepas dari pengaruh situasi politik di Inggris. Kondisi tersebut turut memicu kekhawatiran fiskal tambahan yang berdampak pada stabilitas pasar di kawasan sekitarnya.
Menurut analisis dari para pakar pasar, kenaikan inflasi serta defisit anggaran sebenarnya sudah lama menjadi isu latar belakang di kawasan tersebut. Kendati demikian, munculnya ketidakpastian politik di Inggris dinilai mempercepat tekanan yang terjadi di pasar obligasi global saat ini.
Hingga kini, pelaku pasar masih terus mencermati dampak jangka panjang dari konflik Iran terhadap pertumbuhan ekonomi global dan laju inflasi. Dampak tersebut terutama diwaspadai melalui kenaikan harga input dan output pada sektor industri.
Sejumlah pelaku pasar memproyeksikan adanya peluang besar bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan mendatang. Probabilitas terhadap langkah pengetatan moneter tersebut saat ini diperkirakan mencapai sekitar 85 persen.
Analis memprediksi pergerakan pasar obligasi zona euro kemungkinan besar akan berjalan terbatas dalam beberapa hari ke depan. Investor cenderung memilih sikap menunggu rilis data ekonomi terbaru, termasuk indeks PMI, tingkat kepercayaan konsumen, serta hasil survei iklim usaha Jerman (Ifo).
Fokus utama pasar kini tertuju pada seberapa dalam tekanan inflasi akan merembes ke sektor ekonomi riil. Selain itu, pelaku pasar juga menanti respons kebijakan konkret dari bank sentral dalam menghadapi kenaikan harga yang terus berlangsung.