Wings Group memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 36 megawatt peak (MWp) di delapan pabrik yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur pada akhir Maret 2026. Langkah ini bertujuan untuk menekan emisi karbon sekaligus memenuhi kebutuhan energi operasional secara mandiri.
Dilansir dari Ekonomi, instalasi panel surya tersebut diproyeksikan mampu mengurangi emisi lebih dari 50.000 ton CO2 per tahun. Jumlah pengurangan emisi ini diklaim setara dengan dampak penanaman sekitar 2 juta pohon di wilayah operasional tersebut.
Penggunaan energi surya ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik eksternal. Delapan fasilitas produksi yang dipilih mencakup kategori produk makanan, minuman, hingga perawatan rumah tangga dan tubuh.
Direktur Wings, Ricky Tjahjono, menegaskan bahwa adopsi teknologi ini merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap efisiensi energi. Pihaknya berencana memperluas pemasangan PLTS ke 12 titik pabrik lainnya pada tahun ini guna meningkatkan kapasitas energi hijau secara bertahap.
Langkah sektor swasta ini sejalan dengan target pemerintah Indonesia yang ingin mengoptimalkan potensi tenaga surya nasional sebesar 3.295 gigawatt. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan pemanfaatan energi surya baru mencapai 538 megawatt hingga pertengahan 2025.
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan percepatan pengembangan energi surya untuk mengejar target kapasitas nasional minimal 100 gigawatt. Target ini menjadi prioritas dalam kebijakan energi pemerintah untuk mendukung kemandirian energi bersih di masa depan.
"Ini sudah perintah saya. Ini keputusan saya," ujar Prabowo Subianto.
Penegasan tersebut disampaikan dalam konteks dorongan terhadap peningkatan porsi energi terbarukan di Indonesia. Berdasarkan catatan Climate Action Tracker, Indonesia menargetkan porsi energi terbarukan pada sistem kelistrikan on-grid mencapai 44 persen pada 2030.
Selain dukungan kebijakan, penurunan biaya teknologi menjadi faktor pendukung utama tren penggunaan panel surya di dunia industri. International Renewable Energy Agency mencatat biaya pembangkitan listrik tenaga surya telah merosot hingga 90 persen sejak tahun 2010.
Direktur Climate Policy Initiative Indonesia, Tiza Mafira, berpendapat bahwa sistem PLTS desentralisasi sangat sesuai dengan karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang kaya akan paparan sinar matahari sepanjang tahun.
"PLTS mudah dipasang, stabil jika dikombinasikan dengan baterai, dan sumbernya melimpah karena seluruh wilayah Indonesia mendapatkan sinar matahari," ujar Tiza Mafira.
Pemanfaatan PLTS atap ini diharapkan membantu industri menghemat beban listrik dari jaringan utama, terutama pada saat jam puncak produksi siang hari. Implementasi skema pembiayaan tanpa investasi awal dari penyedia jasa seperti SUN Energy turut mempermudah adopsi teknologi ini bagi pelaku manufaktur.