Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus meninjau penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo pada Kamis (28/5) malam waktu setempat akibat situasi krisis yang kian sulit dikendalikan.
Kunjungan ke Kinshasa tersebut bertujuan memberikan dukungan langsung bagi warga terdampak epidemi yang diperparah oleh konflik bersenjata, pengungsian, dan krisis kepercayaan publik, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat yang terdampak bahwa mereka tidak sendirian," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Badan kesehatan dunia ini telah mengirimkan tim penanganan medis ke Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, yang menjadi episentrum penyebaran virus di wilayah timur.
"Larangan perjalanan tidak disarankan oleh WHO," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Pemberlakuan pembatasan mobilitas internasional dinilai tidak efektif lantaran hanya menunda sebaran penyakit dalam waktu singkat tanpa mematikan sumber infeksi utama.
"Pendekatan terbaik adalah mengintensifkan langkah-langkah pengendalian di sumbernya dan memberikan dukungan," tutur Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Kebijakan penutupan akses tersebut juga berisiko memicu dampak buruk terhadap transparansi kesehatan global karena negara-negara berpotensi menyembunyikan laporan wabah demi menghindari sanksi ekonomi.
Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo melaporkan sebanyak 1.000 kasus suspek dan 238 angka kematian telah tercatat hingga Rabu (27/5).
Epidemi ke-17 di negara tersebut teridentifikasi sebagai infeksi virus Ebola galur Bundibugyo yang tergolong langka melalui pemeriksaan laboratorium.
Status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) telah ditetapkan oleh WHO sejak 17 Mei lalu, diikuti oleh penetapan status darurat dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika.