Waspada Risiko Inflasi 2026 Membengkak, Efek Global Ini Banyak Dicari Pengusaha

Waspada Risiko Inflasi 2026 Membengkak, Efek Global Ini Banyak Dicari Pengusaha
Foto: Waspada Risiko Inflasi 2026 Membengkak, Efek Global Ini Banyak Dicari Pengusaha. (Illustration by Pexels)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat inflasi pada Mei 2026 menyentuh angka 0,28 persen secara bulanan. Jika dilihat secara tahunan, angka inflasi melonjak menjadi 3,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 1,6 persen.

Kenaikan yang signifikan ini menjadi indikator kuat adanya tekanan pada barang-barang impor akibat melemahnya nilai tukar mata uang. Indeks Harga Impor (IHM) tercatat melambung 9,97 persen, bergerak dari angka 111,31 menjadi 122,41.

Daftar Barang Impor dengan Kenaikan Harga Tertinggi

Beberapa kelompok barang impor mencatatkan lonjakan harga yang sangat mencolok dalam kurun waktu satu tahun:

  • Logam mulia, emas, dan perhiasan yang melesat hingga 80,72 persen.
  • Komoditas garam mengalami kenaikan harga sebesar 56,10 persen.
  • Instrumen optik, medis, dan fotografi naik sekitar 29,73 persen.
  • Perabotan rumah tangga serta lampu mengalami inflasi 28,25 persen.
  • Daging hewan impor turut naik sebesar 27,45 persen.

Peningkatan ini mencerminkan tingginya beban biaya yang harus ditanggung importir untuk mendatangkan barang dari luar negeri. Lonjakan pada sektor migas maupun nonmigas turut memperkeruh kondisi stabilitas harga di pasar domestik.

Risiko Global dan Ancaman Geopolitik

Kepala Riset Makroekonomi Permata Bank, Faisal Rachman, memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi ekonomi. Konflik yang belum mereda berisiko mengganggu stabilitas Rupiah dan memicu lonjakan inflasi barang impor (imported inflation).

Selain mata uang, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi ancaman serius bagi ketahanan ekonomi nasional. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah melalui anggaran negara.

Pemerintah mungkin terpaksa mengambil kebijakan harga yang diatur (administered prices) jika tekanan fiskal semakin berat. Di sisi lain, biaya produksi yang terus naik mulai dibebankan oleh produsen kepada konsumen akhir.

Faktor Internal dan Ancaman El Nino

Dari sisi kebijakan dalam negeri, langkah fiskal yang ekspansif diprediksi akan meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat. Hal ini secara alami dapat memicu tekanan inflasi jika tidak dikelola dengan sangat hati-hati.

Faisal juga menyoroti program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dapat memperkuat permintaan pangan secara masif. Tanpa adanya penguatan rantai pasokan dan produksi pangan yang memadai, risiko kenaikan harga pangan akan sulit dihindari.

Ringkasan risiko utama yang perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan:

Kategori Risiko Dampak yang Mungkin Terjadi
Geopolitik & Minyak Beban subsidi energi meningkat dan fiskal tertekan.
Fenomena El Niño "Godzilla" Gangguan produksi pertanian dan lonjakan harga pangan.
Kebijakan Fiskal Kenaikan jumlah uang beredar (M2) memicu inflasi.
Rantai Pasok Kenaikan biaya input yang diteruskan ke konsumen.

Fenomena alam El Niño "Godzilla" menjadi salah satu faktor eksternal yang paling dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian. Jika produksi pangan terganggu, maka inflasi dari kelompok bahan makanan akan melambung tinggi secara tidak terkendali.

Meski banyak tantangan, Faisal menilai tekanan inflasi masih mungkin tertahan oleh kondisi permintaan agregat Indonesia yang relatif lemah. Kesenjangan output yang negatif dianggap mampu meredam potensi lonjakan inflasi yang didorong oleh tarikan permintaan.

Artikel terkait

Rekomendasi