Warga Jakarta Beralih ke Minyak Goreng Tanpa Merek Akibat Lonjakan Harga

Warga Jakarta Beralih ke Minyak Goreng Tanpa Merek Akibat Lonjakan Harga
Foto: Ilustrasi Warga Jakarta Beralih ke Minyak Goreng Tanpa Merek Akibat Lonjakan Harga.

Sejumlah warga di Jakarta beralih mengonsumsi minyak goreng tanpa merek atau merek kurang dikenal akibat lonjakan harga komoditas tersebut yang mencapai Rp19.000 hingga Rp26.000 per liter pada Rabu (13/5/2026). Pergeseran konsumsi ini dilakukan demi menyiasati pengeluaran rumah tangga yang kian membengkak.

Kenaikan harga ini terlihat signifikan di pasar swalayan yang mematok harga kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per liter, sementara minyak tanpa merek di warung sekitar dijual Rp17.000 per liter. Fenomena perpindahan minat konsumen ini dilansir dari Megapolitan melalui pantauan di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Maryati, seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun, menyatakan bahwa dirinya kini lebih sering membeli minyak goreng dengan merek yang jarang terdengar atau tanpa merek sama sekali di warung-warung dekat rumahnya.

"Namanya kan sekarang apa-apa semuanya mahal gitu. Jadi ya mau enggak mau pakainya yang itu aja, kita mah semuanya sama ajalah sudah, asal bisa dipakai buat masak, ya sudah gitu kita beli saja" ungkap Maryati.

Meskipun memilih harga yang lebih ekonomis, Maryati menyadari adanya konsekuensi pada kualitas minyak yang ia gunakan untuk memasak sehari-hari. Ia mengamati bahwa produk yang lebih murah cenderung lebih cepat mengalami perubahan warna saat digunakan di dapur.

"Namanya kan sekarang apa-apa semuanya mahal gitu. Jadi ya mau enggak mau pakainya yang itu aja, kita mah semuanya sama ajalah sudah, asal bisa dipakai buat masak, ya sudah gitu kita beli saja" ungkap Maryati.

Kecenderungan serupa juga ditunjukkan oleh Erna, warga berusia 58 tahun yang memprioritaskan potongan harga dalam setiap belanja kebutuhan pokok. Ia lebih memilih mencari barang di warung kelontong kecil untuk mendapatkan ukuran kemasan yang lebih fleksibel dan terjangkau.

"Kalau saya sih apa yang murah itu saja yang dibeli gampang, enggak cuma minyak tapi semua. Ibaratnya kan kita kalau ke minimarket itu bawaannya cari yang diskon" kata Erna.

Erna menjelaskan bahwa ketersediaan minyak dengan harga rendah lebih mudah ditemukan pada pedagang kecil dibandingkan di ritel modern. Pilihan ini diambil kecuali jika terdapat promosi khusus pada merek-merek ternama yang membuat selisih harganya menjadi tipis.

"Soalnya minyak itu biasanya enggak ada kalau di minimarket, adanya di warung-warung Madura. Dia jual dari yang gelasan cuma berapa mili, terus botol kecil sama yang besar juga ada. Kecuali pas yang merek biasa itu lagi ada promo bedanya tipis, baru beli yang bagusan" tuturnya.

Kondisi pasar ini turut dikonfirmasi oleh para pedagang di Pasar Tomang Barat yang melihat adanya tren peningkatan permintaan pada minyak curah. Luki, seorang penjual sembako berusia 25 tahun, menyebut harga minyak bermerek saat ini terus merangkak naik hingga menyentuh angka Rp47.000 untuk ukuran dua liter.

"Kalau minyak naik, yang bermerek itu dari harga Rp 41.000, Rp 42.000 sekarang bisa Rp 46.000 sampai Rp 47.000. Jauh sih perbedaannya, dari yang biasa (tanpa merek) kan enggak sampai Rp 20.000-an per liter" ujar Luki.

Luki menambahkan bahwa dari sisi kualitas, terdapat perbedaan mencolok antara minyak premium yang tetap bening setelah digunakan berkali-kali dengan minyak murah yang cepat menghitam. Ia memberikan gambaran berdasarkan pengalamannya menggunakan produk tersebut untuk menggoreng ikan secara langsung.

"Beda kualitasnya. Kalau yang mahal kan itu minyaknya bening. Dia buat goreng dua kali, tiga kali gitu masih bening, masih kuning gitu. Tapi kalau yang murah, yang harga Rp 20.000-an itu, digoreng dua kali sudah hitam" ucap Luki.

Kenaikan harga komoditas pangan ini memicu harapan besar dari masyarakat agar pemerintah segera mengambil langkah pengendalian. Warga mempertanyakan tingginya harga minyak goreng di tengah status Indonesia sebagai salah satu negara penghasil minyak nabati yang besar.

"Iya apalagi kan negara kita banyak ya minyak nya, masa minyak goreng malah mahal" tutur Erna.

Artikel terkait

Rekomendasi