VKTR dan Pemprov Jateng Sepakati Peta Jalan Ekosistem Kendaraan Listrik

VKTR dan Pemprov Jateng Sepakati Peta Jalan Ekosistem Kendaraan Listrik
Foto: Ilustrasi VKTR dan Pemprov Jateng Sepakati Peta Jalan Ekosistem Kendaraan Listrik.

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) memperkuat langkahnya dalam membangun ekosistem kendaraan listrik nasional melalui kolaborasi strategis dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng). Kerja sama ini diwujudkan melalui penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan industri hijau terintegrasi di wilayah tersebut.

Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan berita acara kerja sama pembangunan berwawasan lingkungan dan ketahanan energi dalam ajang Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Semarang, Senin (11/5/2026), seperti dikutip dari Investortrust.

Kolaborasi ini berfokus pada peningkatan investasi, penguatan rantai pasok domestik, pengembangan kapasitas industri lokal, serta penciptaan dampak ekonomi berkelanjutan. Jawa Tengah dinilai memiliki posisi yang sangat strategis untuk basis lokalisasi industri kendaraan listrik komersial karena kesiapan rantai pasok dan industri karoseri yang mapan.

Komisaris Utama VKTR, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, Jateng memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri kendaraan listrik nasional karena didukung kesiapan rantai pasok dan industri karoseri yang sudah berkembang. "Jawa Tengah bukan hanya lokasi investasi bagi VKTR, tetapi fondasi strategis untuk membangun lokalisasi industri kendaraan listrik nasional," ujar Anindya Novyan Bakrie.

Menurut Anindya, dengan kesiapan rantai pasok (supply chain), khususnya industri karoseri, dan dukungan pemda yang kuat, ekosistem kendaraan listrik komersial yang terintegrasi dan berkelanjutan dapat dikembangkan dari dan untuk Indonesia.

Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengapresiasi keterlibatan VKTR dalam pengembangan industri kendaraan listrik di daerahnya. Hal itu menunjukkan bahwa Jateng semakin dipercaya sebagai tujuan investasi yang progresif dan berorientasi masa depan.

"Dengan mengusung semangat kolaborasi, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengutamakan penggunaan produksi lokal," tutur Ahmad Luthfi.

Luthfi menegaskan, upaya ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan dampak nyata yang luas bagi Jateng, seperti meningkatnya peluang kerja, tumbuhnya industri lokal, serta terbentuknya rantai pasok dalam negeri yang semakin kuat dan berdaya saing.

Anindya Bakrie menjelaskan, kerja sama ini sekaligus mencakup penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan industri hijau yang terintegrasi di Jateng. Tujuannya tiada lain untuk mendorong peningkatan investasi, penguatan rantai pasok domestik, pengembangan kapasitas industri lokal, serta penciptaan dampak ekonomi berkelanjutan bagi daerah dan nasional.

Pusat industri karoseri di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Magelang, menjadi keunggulan utama dalam integrasi produksi ini. VKTR menggandeng Karoseri Tri Sakti untuk merakit kendaraan komersial listrik karena sasis dan bodi bus merupakan satu kesatuan produk yang tidak terpisahkan.

Melalui metode kendaraan utuh terurai (completely knocked down/CKD), perusahaan memadukan platform teknologi global dengan fasilitas manufaktur lokal. Saat ini, bus listrik VKTR ukuran 12 meter dan 8 meter telah mengantongi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40% dari Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, produk truk listrik VKTR telah mencapai nilai TKDN di atas 30% berdasarkan penilaian mandiri. Perusahaan membidik target peningkatan TKDN hingga melampaui 60%, bahkan menyentuh angka 80% pada 2030 demi mewujudkan kemandirian industri nasional.

Anindya Bakrie mengemukakan, potensi pasar kendaraan komersial di Indonesia sangat besar. Sedikitnya 6 juta unit truk dan 300 ribu unit bus beroperasi di Indonesia, namun tingkat elektrifikasinya masih di bawah 0,1%. Kesenjangan ini menjadi peluang strategis yang membutuhkan basis produksi dalam negeri yang efisien dan memenuhi skala (scalable).

Untuk merespons hal itu, kata Anindya Bakrie, VKTR telah membangun fasilitas perakitan di Magelang yang saat ini memiliki kapasitas produksi hingga 3.000 unit bus dan truk listrik per tahun, dengan rencana ekspansi hingga 10.000 unit ke depan.

"Secara lokasi, Jateng memberikan keunggulan logistik yang signifikan, terutama dalam distribusi ke seluruh Pulau Jawa sebagai pasar utama transportasi dan logistik nasional," tutur Anindya Novyan Bakrie.

Anindya menegaskan, pengalaman VKTR dalam mengembangkan usaha di Jateng menunjukkan bahwa keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem industri kendaraan listrik melalui kolaborasi strategis dengan berbagai pihak.

Dia menambahkan, kolaborasi dengan berbagai pihak sangat menentukan keberhasilan investasi, seperti dengan prinsipal original equipment manufacturer (OEM), mitra usaha karoseri, pemasok lokal, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

"Kerja sama diperlukan untuk mempercepat penetrasi pasar, mendorong transfer teknologi, meningkatkan integrasi industri domestik, dan memperkuat daya saing industri kendaraan listrik nasional," ujar Anindya Novyan Bakrie.

Anin mengatakan, sejalan dengan pengembangan fasilitas perakitan di Jateng, VKTR terus memperkuat rantai pasok domestik melalui peningkatan nilai TKDN, pengembangan kapabilitas manufaktur lokal, serta penguatan layanan purna jual yang lebih menyeluruh.

"Perakitan body dan penggunaan komponen lokal memungkinkan VKTR menyediakan dukungan operasional end-to-end, mulai dari pemeliharaan berkala, predictive maintenance berbasis data, dukungan teknis 24/7, hingga ketersediaan suku cadang domestik yang lebih cepat dan efisien," papar Anindya Novyan Bakrie.

Dia mengungkapkan, untuk memperluas ekosistem pasar, VKTR juga menawarkan skema adopsi kendaraan listrik berbasis sewa yang memungkinkan pelanggan mengalihkan kebutuhan investasi dari belanja modal (capex) menjadi belanja operasional (opex).

"Pendekatan ini memberikan fleksibilitas pembiayaan sekaligus meningkatkan efisiensi total cost of owning and operating (TCOO), sehingga adopsi kendaraan listrik menjadi lebih menarik dari sisi operasional maupun finansial," ujar Anindya Novyan Bakrie.

Dampak Investasi Terhadap Ekonomi Daerah

Kehadiran fasilitas perakitan di Magelang telah menyerap ratusan pekerja langsung. Ekspansi kapasitas produksi di masa depan diproyeksikan mampu membuka ribuan lapangan kerja baru di sektor pendukung seperti penyedia komponen, logistik, karoseri, hingga layanan purna jual.

Nilai TKDN yang melampaui 40% mengindikasikan lonjakan partisipasi industri domestik, di mana sekitar 30-40% nilai kendaraan bus bersumber dari karoseri dan komponen lokal di Jawa Tengah. Sistem produksi CKD ini juga memperdalam struktur industri dan menaikkan daya saing nasional ketimbang mengimpor kendaraan secara utuh.

Investasi ini turut memicu pertumbuhan industri kecil menengah sebagai mitra pendukung, mengaktivasi sektor baru seperti infrastruktur pengisian daya (charging), serta meningkatkan denyut ekonomi di sekitar kawasan industri.

Anindya Bakrie menjelaskan, investasi VKTR memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian daerah melalui berbagai aspek. Dari sisi tenaga kerja, fasilitas perakitan di Magelang telah menyerap ratusan tenaga kerja langsung, dengan potensi peningkatan seiring ekspansi kapasitas produksi.

Secara tidak langsung, menurut Anindya Novyan Bakrie, efek pengganda dari aktivitas industri ini diperkirakan mampu menciptakan ribuan lapangan kerja di sektor pendukung seperti karoseri, pemasok komponen, logistik, hingga layanan purna jual.

"Investasi ini tak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi menciptakan ekosistem yang mencakup penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, hingga peningkatan nilai tambah industri. Inilah langkah konkret menuju transformasi ekonomi hijau dan kemandirian industri nasional.", papar Anindya Novyan Bakrie.

Anin mengakui, dalam penguatan rantai pasok lokal, kontribusi TKDN yang telah melampaui 40% menunjukkan bahwa partisipasi industri domestik meningkat. Dalam produksi bus, sekitar 30-40% nilai kendaraan berasal dari karoseri dan komponen lokal, yang secara langsung mendorong pertumbuhan industri pendukung di Jawa Tengah.

"Selain itu, model produksi berbasis CKD memungkinkan peningkatan nilai tambah industri dalam negeri, dibandingkan dengan impor kendaraan utuh. Hal ini berkontribusi terhadap pendalaman struktur industri serta peningkatan daya saing nasional," ucap Anindya Novyan Bakrie.

Di sisi lain, kata Anindya Novyan Bakrie, kehadiran VKTR juga mendorong aktivasi ekonomi lokal, termasuk pertumbuhan industri kecil menengah sebagai pendukung, munculnya sektor baru seperti infrastruktur charging dan layanan kendaraan listrik, serta peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri.

Dia menambahkan, partisipasi VKTR dalam CJIBF 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemda dan pelaku industri mampu menciptakan fondasi kuat bagi pertumbuhan investasi yang berkelanjutan. "Jateng kini tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga motor penggerak dalam membangun masa depan industri kendaraan listrik Indonesia," tandas Anindya Novyan Bakrie.

Artikel terkait

Rekomendasi