Viral Paket Retur COD Jepara Dijual Borongan Picu Protes Seller

Viral Paket Retur COD Jepara Dijual Borongan Picu Protes Seller
Foto: Ilustrasi Viral Paket Retur COD Jepara Dijual Borongan Picu Protes Seller.

Sebuah unggahan video yang memperlihatkan aktivitas penjualan paket retur Cash on Delivery (COD) dalam skala besar mendadak viral di media sosial. Fenomena ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet, terutama para pelaku usaha daring yang merasa dirugikan oleh sistem pengembalian barang.

Video tersebut menjadi sorotan setelah diunggah kembali oleh akun Instagram Lambe Turah pada 15 April 2026, sebagaimana dikutip dari Suara. Dalam rekaman itu, tampak seorang perempuan menawarkan tumpukan paket yang diklaim sebagai barang retur dari gudang pusat di wilayah Jepara.

Kondisi paket-paket tersebut masih dalam keadaan tersegel rapat, sehingga penjual mengaku tidak mengetahui rincian isi di dalamnya. Penawaran dilakukan dengan sistem borongan atau kiloan kepada para pembeli yang berminat.

"Sekarang 15 April 2026, kita lagi proses muat palet furniture. Ini kita udah proses 1 ton. Yang mau borongan AWB packing boleh yah. Ini masih dalam bentuk packingan semua. Makanya kita nggak tahu isinya apa. Ini langsung dari gudang pusat,"

ujar perempuan dalam video tersebut. Selain furnitur, terlihat pula berbagai komoditas lain seperti alas kaki, pakaian, tas, hingga perlengkapan rumah tangga yang dijual dengan harga miring.

Unggahan tersebut segera memicu reaksi negatif dari para penjual di marketplace yang sering menghadapi kendala paket retur. Narasi dalam video secara spesifik mempertanyakan perasaan para pedagang online ketika melihat barang returan diperjualbelikan secara bebas di Jepara.

Sejumlah warganet di kolom komentar mengekspresikan kekecewaan mereka karena merasa menjadi korban dari sistem logistik yang tidak transparan. Beberapa mengaku sering mengalami kehilangan paket atau barang retur yang tidak pernah kembali ke tangan penjual.

"Raketku aja ilang di JNT Cargo yang awal harga Rp480 ribu cuma dapat kompensasi dari oren Rp180 ribu. Moga-moga yang ambil raketku diberikan rezeki yang lancar biar tidak ambil punya orang lain,"

tulis salah satu netizen. Komentar lain juga datang dari akun @chn*** yang merasa keberatan jika barang miliknya diperjualbelikan oleh pihak lain tanpa izin.

"Saya mungkin seller (korban) salah satunya. Kalau paket returan saya diperjualbelikan, khususnya J** karena kalau ada COD retur nggak otomatis dikembalikan ke seller, tapi ke agen yang menerima paket dari awal, saya tidak akan ikhlas. Monggo urusannya sama Allah aja yaaa,"

tuturnya. Keluhan serupa disampaikan oleh akun @apr*** yang mencurigai alasan kurir saat paket tidak sampai ke alamat tujuan.

"Betul, aku pernah jadi seller. Banyak banget paket COD-ku yang hilang alesannya penerima nggak di rumah,"

tulisnya dalam kolom komentar.

Tuntutan Transparansi Sistem Ekspedisi

Munculnya praktik penjualan paket tersegel ini membuat publik mendesak pihak jasa ekspedisi dan marketplace untuk memberikan penjelasan terbuka. Transparansi mengenai alur pengembalian barang menjadi poin utama yang disuarakan guna melindungi hak penjual maupun pembeli.

Hingga saat ini, kejelasan mengenai asal-usul paket serta legalitas mekanisme distribusinya masih menjadi tanda tanya besar di tengah masyarakat. Belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai kebenaran klaim barang retur gudang pusat yang diperjualbelikan di wilayah tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi