Ulama Bahas Perdebatan Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan

Ulama Bahas Perdebatan Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan
Foto: Ilustrasi Ulama Bahas Perdebatan Putra Nabi Ibrahim yang Dikurbankan.

Kisah pengorbanan putra Nabi Ibrahim AS menjadi peristiwa agung dalam sejarah kenabian sekaligus asal-usul ibadah kurban. Dilansir dari Media Indonesia, muncul diskusi panjang di kalangan ulama mengenai sosok putra yang hendak disembelih, apakah Nabi Ismail AS atau Nabi Ishaq AS.

Mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah serta pengikut Empat Mazhab berpegang teguh pada pendapat bahwa putra yang dikurbankan adalah Nabi Ismail AS. Penegasan ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap dalil hukum, argumentasi, dan pandangan para imam mazhab.

Para ulama Ahlussunnah menggunakan pendekatan analisis terhadap ayat Al-Qur'an, khususnya Surat Ash-Shaffat ayat 100-113. Alasan pertama merujuk pada urutan kabar gembira dalam surat tersebut, di mana kisah anak yang sabar diceritakan sebelum kabar kelahiran Ishaq pada ayat 112.

Alasan kedua berkaitan dengan lokasi peristiwa yang berada di Mekah, seperti tempat pelaksanaan Sa'i dan melempar Jumrah. Sejarah mencatat Nabi Ismail ditinggalkan di Mekah bersama Ibunda Hajar, sedangkan Nabi Ishaq tumbuh besar di Syam bersama Ibunda Sarah.

Alasan ketiga didasarkan pada gelar Adz-Dzabih atau anak yang disembelih. Gelar ini disematkan kepada Nabi Ismail AS dalam berbagai riwayat hadis serta atsar sahabat seperti Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas.

Pandangan dalam Empat Mazhab

Empat mazhab fikih tidak menjadikan persoalan ini sebagai perbedaan pokok dalam hukum ibadah. Namun, para ulama mazhab memberikan catatan khusus dalam kitab-kitab tafsir dan tarikh mereka.

Kecenderungan Pendapat Empat Mazhab Fikih
MazhabKecenderungan Pendapat
Imam Asy-Syafi'i dan mayoritas ulama Syafi'iyyah menegaskan Ismail sebagai putra yang dikurbankan berdasarkan dalil geografis Mekah.Imam Malik bin Anas menyebutkan nama Ismail, yang menjadi pendapat paling kuat di kalangan Malikiyyah meski ada riwayat lain.
Ulama Hanafi sepakat pada nama Ismail karena kaitan erat antara ibadah kurban dengan manasik haji di Mekah.Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa Ismail merupakan putra yang dikurbankan.

Asal-usul Pendapat Nabi Ishaq

Sebagian kecil ulama salaf memang ada yang berpendapat bahwa putra yang dikurbankan adalah Nabi Ishaq. Pakar tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pandangan ini kemungkinan besar bersumber dari riwayat Israiliyat.

Kitab Taurat menyebutkan bahwa yang dikurbankan merupakan anak tunggal Ibrahim, yaitu Ishaq. Ulama Islam mengoreksi hal ini dengan menyatakan bahwa Ismail adalah anak pertama yang sempat menjadi anak tunggal sebelum Ishaq lahir.

FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan

1. Apakah Al-Qur'an menyebutkan nama putra yang dikurbankan secara eksplisit?

Secara tekstual, Al-Qur'an dalam Surat Ash-Shaffat tidak menyebutkan nama Ismail atau Ishaq saat perintah penyembelihan. Namun, indikasi kuat dalam ayat-ayat setelahnya menunjukkan bahwa sosok tersebut adalah Ismail.

2. Apa dampak perbedaan pendapat ini terhadap ibadah kurban?

Perbedaan pendapat ini tidak memberikan dampak hukum terhadap ibadah kurban. Seluruh ulama sepakat bahwa ibadah kurban merupakan syariat yang sah.

3. Mengapa Nabi Ismail disebut Anak yang Sabar?

Nabi Ismail disebut sebagai anak yang sabar karena menjawab perintah wahyu tersebut dengan penuh keteguhan.

"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

4. Bagaimana pandangan Ibnu Katsir mengenai hal ini?

Ibnu Katsir dalam tafsirnya secara tegas menyatakan pendapat yang benar adalah Nabi Ismail. Beliau menilai pendapat yang menyebut Nabi Ishaq dipengaruhi oleh riwayat luar atau Israiliyat.

5. Apakah ada sahabat Nabi yang berpendapat Nabi Ishaq?

Beberapa riwayat dinisbatkan kepada sahabat mengenai pendapat Nabi Ishaq. Namun, keshahihan riwayat tersebut diperdebatkan atau dianggap sebagai pandangan sebelum mengetahui hujah yang lebih kuat mengenai Nabi Ismail.

6. Mengapa lokasi penyembelihan menjadi bukti kuat?

Seluruh rangkaian ibadah haji merupakan napak tilas keluarga Nabi Ibrahim di Mekah. Jika yang dikurbankan adalah Ishaq yang berada di Syam, tidak ada kaitan sejarah antara penyembelihan dengan bukit Marwah atau Mina.

Artikel terkait

Rekomendasi