Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi memutuskan untuk keluar dari keanggotaan OPEC pada Jumat (1/5/2026) yang dinilai berisiko mengikis pengaruh kartel minyak tersebut terhadap stabilitas pasar energi dunia. Dilansir dari Ekonomi, langkah strategis ini berpotensi mereduksi dominasi Arab Saudi sebagai pemimpin organisasi produsen minyak tersebut.
Analisis dari Rystad Energy menyoroti posisi krusial UEA yang selama ini menjadi anggota paling berpengaruh setelah Arab Saudi karena memiliki cadangan produksi yang besar. Negara-negara tersebut secara kolektif menguasai mayoritas kapasitas cadangan global yang mencapai angka lebih dari 4 juta barel per hari.
Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Le├│n memberikan pandangannya terkait hilangnya salah satu kekuatan utama organisasi tersebut di tengah ketidakpastian pasar global.
"Kepergian UEA menghilangkan salah satu pilar utama yang menopang kemampuan OPEC dalam mengelola pasar," ujar Le├│n, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy.
Ia menambahkan bahwa kepergian negara tersebut memberikan dampak struktural yang signifikan bagi keberlangsungan organisasi di masa mendatang.
"OPEC akan menjadi lebih lemah secara struktural akibat keputusan tersebut," kata Le├│n, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy.
Mantan pejabat energi Amerika Serikat David Goldwyn menilai pengunduran diri ini sebagai tantangan besar bagi otoritas Riyadh dalam mengoordinasi kebijakan minyak internasional. Meski Arab Saudi masih memegang kendali atas kapasitas cadangan domestik, posisi tawar mereka dianggap berkurang tanpa kehadiran UEA.
Konflik regional di Selat Hormuz yang melibatkan serangan drone dan rudal oleh Iran terhadap jalur pelayaran menjadi latar belakang situasi ekonomi UEA saat ini. Namun, Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menegaskan bahwa keputusan tersebut telah mempertimbangkan kepentingan produsen lain.
John Kilduff dari Again Capital memprediksi bahwa efek penurunan harga minyak akan terasa ketika terjadi kelebihan pasokan di masa depan akibat berkurangnya solidaritas antarprodusen. UEA sendiri kini menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 5 juta barel per hari pada tahun 2027 mendatang.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow mencatat adanya ketegangan internal akibat kebijakan pemangkasan produksi yang selama ini diterapkan demi menjaga stabilitas harga. Di sisi lain, beberapa anggota seperti Rusia dan Irak dilaporkan sering kali melanggar kuota produksi yang telah ditetapkan.
"Ketika konflik antara AS dan Iran berakhir serta Selat Hormuz kembali dibuka, saya memperkirakan UEA akan memproduksi minyak sebanyak mungkin dengan memanfaatkan kapasitas cadangan yang selama ini ditahan," ujar Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
David Goldwyn memperingatkan adanya potensi volatilitas harga yang lebih tinggi akibat perubahan peta kekuatan di internal produsen minyak ini. Meski demikian, koordinasi di luar keanggotaan resmi masih memungkinkan terjadi apabila situasi pasar membutuhkan intervensi bersama.
"Risiko volatilitas harga minyak yang lebih tinggi cukup signifikan akibat keputusan ini. Namun, pada akhirnya, ketika kondisi pasar menuntut kerja sama, keluarnya UEA dari OPEC tidak menghalangi mereka untuk tetap bekerja sama dengan OPEC," kata David Goldwyn, Mantan Utusan Khusus dan Koordinator Urusan Energi Internasional Departemen Luar Negeri AS periode 2009ÔÇô2011.