Tujuh Jemaah Haji Indonesia Wafat Akibat Jantung dan Pneumonia

Tujuh Jemaah Haji Indonesia Wafat Akibat Jantung dan Pneumonia
Foto: Ilustrasi Tujuh Jemaah Haji Indonesia Wafat Akibat Jantung dan Pneumonia.

Sebanyak tujuh jemaah haji asal Indonesia dilaporkan meninggal dunia di Arab Saudi hingga Minggu (3/5/2026). Dilansir dari Nasional, penyebab utama kematian para jemaah tersebut diidentifikasi akibat serangan jantung serta infeksi radang paru-paru atau pneumonia.

Kementerian Haji dan Umrah mengonfirmasi bahwa mayoritas kasus kematian yang terjadi disebabkan oleh kondisi kesehatan terkait pernapasan dan jantung. Data ini dihimpun dari laporan terbaru operasional penyelenggaraan ibadah haji di tanah suci.

"Sebagian besar disebabkan oleh serangan jantung dan radang paru-paru," ujar Maria Assegaf, Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah saat konferensi pers, Minggu (3/5/2026).

Pihak kementerian menyampaikan belasungkawa mendalam atas berpulangnya para tamu Allah tersebut. Maria juga mengajak publik untuk memberikan dukungan moril melalui doa bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

"Kita doakan semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," katanya.

Mengenai kewajiban ibadah bagi jemaah yang meninggal sebelum menyelesaikan rangkaian haji, pemerintah telah menyiapkan skema khusus. Maria memberikan kepastian bahwa hak ibadah para jemaah tersebut akan tetap terpenuhi melalui program pemerintah.

"Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjamin badal haji bagi seluruh jemaah yang wafat," jelasnya.

Selain laporan kematian, tercatat sebanyak 6.823 jemaah telah menerima layanan rawat jalan hingga saat ini. Sebanyak 117 orang harus dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sementara 141 lainnya dibawa ke rumah sakit setempat di Arab Saudi.

"Untuk jemaah yang masih dirawat di rumah sakit Arab Saudi saat ini berjumlah 59 orang," jelasnya.

Meski terdapat jemaah yang wafat dan dirawat, Maria menekankan bahwa pemantauan medis dilakukan secara intensif di semua tingkatan layanan. Fasilitas kesehatan mulai dari kloter hingga rujukan tetap disiagakan untuk melayani seluruh jemaah.

"Secara umum kondisi kesehatan jemaah masih terus terpantau dan mendapatkan pelayanan medis yang optimal," pungkas Maria.

Artikel terkait

Rekomendasi