Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginstruksikan Angkatan Laut untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal-kapal Iran yang dinilai mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kebijakan ini memicu ketegangan baru di kawasan tersebut setelah pihak Amerika melakukan blokade sejak 13 April lalu.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, otorisasi penghancuran armada Iran ini mencakup kapal cepat yang berupaya memasang ranjau laut di perairan strategis tersebut. Langkah militer ini dilaporkan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global melalui kenaikan harga energi internasional.
Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan penjelasan mendalam mengenai mandat yang diberikan oleh kepala negara. Ia menegaskan bahwa militer memiliki wewenang penuh untuk menetralisir ancaman yang mengganggu arus logistik dunia di perairan tersebut.
Rencana pembersihan ranjau laut yang diduga dipasang oleh pihak Iran juga telah disusun oleh pihak Pentagon. Hegseth memaparkan bahwa proses pembersihan wilayah perairan dari bahan peledak tersebut diprediksi akan memakan waktu hingga enam bulan ke depan.
Di sisi lain, laporan dari media pemerintah Iran menunjukkan kondisi terkini di lapangan melalui tayangan visual pada Sabtu lalu. Rekaman tersebut memperlihatkan sejumlah kapal kargo serta kapal tanker minyak yang terhenti di sekitar Selat Hormuz.
Meskipun demikian, keabsahan video tersebut belum mendapatkan verifikasi secara mandiri terkait waktu dan lokasi pastinya. Situasi di jalur pelayaran ini tetap diawasi ketat seiring dengan berlanjutnya blokade Amerika Serikat di pelabuhan-pelabuhan utama Iran.