Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku menyesal karena tidak meminta porsi kepemilikan saham yang lebih tinggi di perusahaan semikonduktor Intel Corp untuk pemerintahannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara eksklusif bersama majalah Fortune yang dipublikasikan pada Senin (18/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah mengambil langkah tidak biasa dengan membeli 10 persen saham Intel senilai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 150 triliun pada tahun lalu.
Dana investasi jumbo tersebut dikucurkan oleh Washington demi membangun serta memperluas jaringan pabrik-pabrik cip mutakhir di dalam negeri.
Kebijakan penanaman modal ini mendatangkan keuntungan besar karena nilai saham pemerintah AS di Intel melonjak hingga menembus angka lebih dari US$ 50 miliar hanya dalam delapan bulan.
"Apakah saya mendapatkan apresiasi atas keberhasilan ini? Apakah ada orang yang tahu kalau saya yang melakukan hal itu?" ujar Trump, Senin.
Terkait strategi keluar untuk mencairkan keuntungan investasi tersebut, Trump berencana melakukan penjualan saham Intel secara perlahan dari waktu ke waktu.
Skema penjualan bertahap ini dipilih demi memastikan stabilitas harga saham Intel di bursa tidak merosot tajam akibat aksi jual massal.
"Intel seharusnya menjadi perusahaan terbesar di dunia saat ini," cetus Trump.
Trump juga melontarkan kritik terhadap dominasi industri semikonduktor global yang saat ini dikuasai oleh raksasa asal Taiwan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC.
Ia mengklaim bahwa Intel memiliki kemampuan untuk merebut seluruh pangsa pasar perusahaan Taiwan tersebut seandainya ia menjabat sebagai presiden lebih awal.
"Jika saya sudah menjadi presiden ketika perusahaan-perusahaan ini mulai mengirimkan cip mereka dari China, saya akan langsung menerapkan tarif bea masuk tinggi yang pasti akan melindungi eksistensi Intel," tambah Trump.
Sesi wawancara bersama media ekonomi tersebut berlangsung tepat sebelum Trump melakukan kunjungan resmi perdananya ke Beijing sejak tahun 2017 silam.
Kunjungan kenegaraan itu berakhir pada Jumat (15/5/2026) tanpa membuahkan terobosan besar di sektor perdagangan maupun bantuan untuk menghentikan perang AS-Israel melawan Iran.
Intervensi modal langsung ke Intel merupakan bagian dari strategi agresif Nasionalisasi Semikonduktor untuk mengamankan rantai pasok teknologi nasional AS dari ketergantungan terhadap Asia.