Presiden Donald Trump mengambil kebijakan drastis dengan menguras cadangan minyak darurat Amerika Serikat (AS) di tengah tingginya frustrasi pemilih akibat lonjakan harga bahan bakar. Langkah tersebut diambil dengan kecepatan yang melampaui kebijakan pendahulunya, Joe Biden.
Dikutip dari Media Indonesia, keputusan ini memicu ironi politik lantaran Trump pernah mengkritik keras kebijakan serupa pada masa kampanye 2022. Pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) kini membuat stok minyak mentah nasional mendekati level paling rendah sejak awal 1980-an, era ketika ekonomi dan konsumsi energi AS masih jauh lebih kecil.
Langkah darurat pada musim semi ini dipicu oleh skala krisis energi akibat perang dengan Iran. Aliran lebih dari 1,2 miliar barel minyak mentah terhambat akibat penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 yang menjadi jalur distribusi paling kritis di dunia berdasarkan data S&P Global Energy.
Guna menutupi kekosongan pasokan, SPR menggelontorkan rekor 9,9 juta barel atau sekitar 2,6 persen dalam pekan yang berakhir pada 15 Mei 2026. Data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan jumlah minyak di SPR merosot 10 persen menjadi 374 juta barel sejak konflik Iran pecah, sekaligus menjadi level terendah sejak Juli 2024.
"Ini bukan seperti toples kue. Barel-barel itu harus dikembalikan pada suatu titik dan proses pengisian kembali tersebut akan memicu permintaan serta harga yang tetap tinggi di masa depan," ujar Matt Smith, analis minyak utama di firma intelijen energi Kpler.
Minyak darurat dari AS ini tidak hanya disalurkan untuk kebutuhan kilang domestik. Estimasi Kpler mengindikasikan sekitar separuh dari minyak mentah yang dilepas pada April dan Mei diekspor ke luar negeri demi menyuplai negara-negara Asia serta Eropa yang terdampak penutupan Selat Hormuz.
Kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, Helima Croft, memperingatkan krisis ini berpotensi berjalan lama. Menurutnya, hambatan di selat tersebut membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk dibuka kembali walaupun kesepakatan damai tercapai, sehingga Eropa berisiko menghadapi kebijakan penjatahan energi.
Penyusutan tajam juga melanda stok minyak komersial AS di Cushing, Oklahoma, yang menjadi titik penentuan harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI). Inventaris di wilayah tersebut merosot dari 33 juta barel menjadi sekitar 24,5 juta barel dalam kurun waktu tujuh minggu terakhir.
Posisi stok komersial tersebut kini berada di ambang batas operasional sebesar 20 juta barel.
"Anda tidak bisa mengurasnya hingga nol karena ada endapan di dasar tangki. Diperlukan volume tertentu agar fasilitas tetap bisa beroperasi," tambah Smith.
Gedung Putih menegaskan bahwa opsi pembatasan atau pelarangan ekspor demi menekan harga domestik belum menjadi pertimbangan saat ini. Pengamat memperingatkan bahwa langkah pembatasan ekspor justru berisiko merusak stabilitas sistem energi global sekaligus merugikan produsen dan kilang minyak domestik.
Pada sisi lain, Amerika Serikat sebelumnya telah melepas 172 juta barel minyak dari SPR yang menjadi bagian dari aksi kolektif International Energy Agency (IEA) pada 12 Maret 2026. Langkah tersebut disepakati bersama IEA dengan total 400 juta barel cadangan darurat demi menekan harga energi yang melonjak akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Kendati IEA telah mengucurkan cadangan darurat sebesar 400 juta barel, harga minyak Brent terpantau tetap melonjak hingga menembus angka US$100 akibat munculnya skeptisisme pasar di tengah konflik Timur Tengah.