Donald Trump Kritik Paus Leo XIV Terkait Kebijakan Luar Negeri

Donald Trump Kritik Paus Leo XIV Terkait Kebijakan Luar Negeri
Foto: Ilustrasi Donald Trump Kritik Paus Leo XIV Terkait Kebijakan Luar Negeri.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV melalui platform Truth Social selama tiga hari hingga Rabu (15/4/2026). Perselisihan ini bermula dari pernyataan pemimpin Vatikan mengenai konflik Iran dan pertemuan diplomatik yang memicu ketegangan antara Washington dan Takhta Suci.

Ketegangan meningkat setelah pejabat Pentagon menegur diplomat tertinggi Vatikan atas komentar Paus yang dianggap mengkritik pemerintahan Trump. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, pihak Vatikan mengonfirmasi pertemuan antara Kardinal Christophe Pierre dengan wakil menteri perang AS, Eldridge Colby, sebagai bagian dari misi rutin.

Dalam pesan yang ditujukan kepada para pemimpin dunia saat doa malam, Paus Leo XIV menyoroti eskalasi agresi dan menyerukan penghentian tindakan militer. Pemimpin Gereja Katolik tersebut menekankan pentingnya meja dialog dibandingkan perencanaan persenjataan kembali dalam menangani konflik internasional.

"Kepada mereka kita berseru: hentikan! Sudah waktunya untuk perdamaian! Duduklah di meja dialog dan mediasi - bukan di meja tempat persenjataan ulang direncanakan dan tindakan mematikan diputuskan," seru Paus Leo XIV, Pemimpin Vatikan.

Paus juga menyoroti masalah gaya hidup dan ambisi kekuasaan yang dianggap sebagai pemicu konflik global saat ini. Ia menyerukan perubahan mendasar dalam cara para pemimpin dunia melayani masyarakat dan kehidupan.

"Cukup sudah pemujaan diri dan uang! Cukup sudah pamer kekuasaan! Cukup sudah perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan," tambah Paus Leo XIV, Pemimpin Vatikan.

Kritik Trump semakin tajam setelah muncul laporan bahwa Paus bertemu dengan ahli strategi David Axelrod. Melalui unggahan panjang, Trump menuding Paus bersikap lemah terhadap kejahatan dan mengabaikan kesulitan yang dialami organisasi Kristen selama masa pandemi di masa lalu.

"Dia berbicara tentang 'ketakutan' terhadap Pemerintahan Trump, tetapi tidak menyebutkan KETAKUTAN yang dialami Gereja Katolik dan semua Organisasi Kristen lainnya selama COVID ketika mereka menangkap para imam, pendeta, dan semua orang lain karena mengadakan kebaktian gereja, bahkan ketika berada di luar ruangan dan menjaga jarak sepuluh bahkan dua puluh kaki," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Dalam narasi lanjutannya, Trump membandingkan Paus Leo dengan saudaranya, Louis Prevost, yang merupakan pendukung gerakannya di Florida. Ia juga menyinggung kebijakan terkait nuklir Iran dan masalah keamanan di perbatasan Amerika Serikat.

"Dia mengerti, dan Leo tidak! Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir. Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kita," ungkap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Lebih lanjut, Trump meminta agar pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut berhenti mengikuti arus politik sayap kiri. Ia berpendapat bahwa keterlibatan Paus dalam urusan politik praktis justru merugikan institusi gereja itu sendiri.

"Begitu pula fakta bahwa ia bertemu dengan simpatisan Obama seperti David Axelrod, seorang PECUNDANG dari sayap kiri, yang merupakan salah satu orang yang menginginkan jemaat gereja dan rohaniwan ditangkap. Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti menuruti keinginan sayap kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan politisi. Hal itu sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik!" tutur Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Selain serangan verbal, Trump sempat mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya dengan atribut cahaya ilahi sedang menyembuhkan pasien. Namun, unggahan tersebut segera dihapus setelah menuai banyak kecaman dari publik di media sosial.

"Gambar itu seharusnya adalah saya sebagai seorang dokter yang membuat orang-orang menjadi lebih baik," jawab Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Wakil Presiden JD Vance turut membela tindakan Trump tersebut di hadapan media. Menurutnya, penghapusan unggahan tersebut dikarenakan adanya perbedaan persepsi mengenai gaya humor yang ditampilkan oleh sang Presiden.

"Tentu saja dia menghapusnya karena menyadari banyak orang tidak memahami humornya," jelas JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat.

Menanggapi serangan tersebut, Paus Leo XIV memberikan pernyataan saat berada dalam perjalanan kunjungan ke Afrika. Beliau menegaskan posisinya sebagai pemimpin agama yang fokus pada pesan-pesan kemanusiaan universal tanpa bermaksud terjebak dalam perdebatan politik.

"Saya bukan politisi, dan saya tidak ingin terlibat dalam debat dengannya. Saya tidak berpikir pesan Injil harus disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang. Saya terus berbicara dengan tegas menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, dialog, dan multilateralisme antar negara untuk menemukan solusi atas masalah," aku Paus Leo XIV, Pemimpin Vatikan.

Paus menambahkan bahwa keberpihakannya murni demi mengurangi penderitaan korban perang. Beliau menyatakan tidak akan berhenti menyuarakan perdamaian meskipun mendapatkan kritik keras dari otoritas pemerintahan Amerika Serikat.

"Saya mengatakan ini kepada semua pemimpin dunia, bukan hanya kepadanya (Trump): mari kita akhiri perang dan promosikan perdamaian dan rekonsiliasi," ucap Paus Leo XIV, Pemimpin Vatikan.

Menutup pernyataannya, Paus menegaskan bahwa dirinya menjalankan tugas sesuai dengan mandat gereja tanpa rasa takut terhadap tekanan politik manapun. Kondisi hubungan diplomatik kedua pihak kini menjadi perhatian internasional.

"Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menurut saya adalah tugas saya di sini, tugas Gereja di sini," tandas Paus Leo XIV, Pemimpin Vatikan.

Artikel terkait

Rekomendasi