Trimegah Sekuritas Menilai Pelemahan Rupiah Sudah Masuk Fase Overshooting

Trimegah Sekuritas Menilai Pelemahan Rupiah Sudah Masuk Fase Overshooting
Foto: Ilustrasi Trimegah Sekuritas Menilai Pelemahan Rupiah Sudah Masuk Fase Overshooting.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai telah memasuki fase pelemahan yang berlebihan atau overshooting oleh Trimegah Sekuritas Indonesia pada Kamis (28/5/2026). Penurunan nilai mata uang domestik ini dianggap bergerak lebih dalam daripada kondisi yang dibenarkan oleh fundamental jangka panjang Indonesia akibat besarnya tekanan di pasar keuangan.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) pukul 09.18 WIB di pasar spot exchange yang dilansir dari Investor Daily, kurs rupiah merosot hingga 57 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp 17.858 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan negatif ini melanjutkan tren sehari sebelumnya pada Rabu (27/5/2026) saat rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.827 per dolar AS, sementara indeks dolar AS merangkak naik 0,14 persen menuju level 99.34.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa fluktuasi nilai tukar ini dipengaruhi oleh cara pasar dalam merespons kombinasi tekanan global, arah kebijakan dalam negeri, serta ketidakjelasan penyesuaian ekonomi.

"Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat," ujar Fakhrul dalam keterangan resmi pada Kamis (28/5/2026).

Penumpukan beban ekonomi pada sektor kurs terjadi karena penyesuaian di sektor domestik dilakukan secara sangat hati-hati demi menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas sosial. Dampaknya, fluktuasi harga energi global tidak terbagi rata ke sektor fiskal atau inflasi, melainkan langsung bergeser ke mata uang rupiah.

"Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," tutur Fakhrul.

Situasi ini menempatkan pemerintah pada dilema besar antara stabilitas eksternal dan perlindungan daya beli. Kebijakan menahan harga energi domestik agar tetap kaku di tengah lonjakan tekanan global memicu pergerakan ekstrem di pasar valuta asing.

"Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,ÔÇØ katanya.

Kondisi rupiah yang terus menjadi peredam kejut tunggal dikhawatirkan dapat merembet ke yield obligasi, biaya pendanaan, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi nasional. Antisipasi atas risiko ini memerlukan bauran kebijakan Bank Indonesia yang kredibel, langkah fiskal yang realistis, komunikasi yang kuat, serta peta jalan stabilisasi yang jelas.

Meski menghadapi tekanan berat, potensi penguatan kembali bagi mata uang Garuda dinilai masih terbuka lebar apabila skema burden sharing antara kebijakan fiskal dan moneter berjalan seimbang. Trimegah Sekuritas memproyeksikan rupiah bisa menguat menuju level Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

ÔÇ£Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,ÔÇØ tutur Fakhrul.

Artikel terkait

Rekomendasi