Tren industri pariwisata global mengalami pergeseran signifikan dari kuantitas destinasi menuju kualitas pengalaman yang lebih personal dan bermakna. Perubahan perilaku pelancong ini disampaikan oleh Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel, Kitty Chandra, di Jakarta pada Selasa (21/4/2026).
Data internal Golden Rama Tours & Travel memperkuat fenomena tersebut dengan mencatatkan lonjakan aktivitas perjalanan lebih dari 20 persen pada semester pertama tahun 2026. Fenomena ini selaras dengan laporan studi McKinsey yang dilansir dari Detik Travel.
"Jadi lebih mencari value ya. Bukan hanya sekedar banyaknya tempat dan sebagainya," kata Kitty Chandra, Vice President Business Development Golden Rama Tours & Travel.
Berdasarkan riset tersebut, lebih dari 70 persen wisatawan dunia kini menempatkan nilai pengalaman di atas kepemilikan barang atau sekadar jumlah lokasi yang dikunjungi. Pelancong cenderung merencanakan perjalanan dengan lebih saksama untuk mencari tujuan yang jelas.
"Jadi kalau dulu traveler itu misalnya satu tahun beberapa kali (bepergian) gitu ya, sekarang mereka lebih terencana, lebih (mencari) maknanya, tujuan untuk menjalankan traveling itu untuk apa?," ungkap Kitty Chandra.
Meskipun destinasi populer seperti Jepang atau Korea Selatan tetap menjadi pilihan utama, pola eksplorasi wisatawan telah berubah. Mereka kini lebih memilih untuk menetap lebih lama di satu lokasi guna mendalami daya tarik lokal yang belum pernah terjamah sebelumnya.
Kitty menjelaskan bahwa transformasi ini mulai menguat sejak redanya pandemi Covid-19, di mana perjalanan kini dianggap sebagai sarana untuk menemukan jati diri. Statistik global menunjukkan minat bepergian saat ini melampaui level sebelum pandemi.
Pasar wisata internasional dan domestik sempat tumbuh masing-masing sebesar 14 persen dan 20 persen pada 2024. Memasuki tahun 2025, pertumbuhan sektor ini mulai menunjukkan stabilitas pada angka satu digit.
"Di 2025 sendiri, secara global ada peningkatan, tapi lebih stabil. Internasional dan domestik itu sekitar tujuh persen," kata Kitty Chandra.