Aktivitas lindung nilai atau hedging pada komoditas energi memicu lonjakan tajam transaksi kontrak berjangka minyak mentah di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) atau ICDX sepanjang Maret 2026. Peningkatan volume perdagangan ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi pasar energi global.
Data ICDX yang dilansir dari Money menunjukkan transaksi kontrak berjangka minyak mentah jenis COFU10 mencapai 648 lot pada Maret 2026. Angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan perolehan pada Januari dan Februari tahun ini yang masing-masing hanya sebesar 4 lot dan 12 lot.
COFU10 merupakan instrumen kontrak berjangka yang merepresentasikan 10 barel minyak mentah per lot dengan patokan West Texas Intermediate (WTI). Minyak jenis ini tergolong minyak mentah ringan dan manis yang menjadi salah satu acuan utama harga minyak dunia di pasar internasional.
Direktur ICDX Nursalam menjelaskan bahwa pertumbuhan transaksi pada kontrak COFU10 mencerminkan besarnya minat pelaku usaha untuk memitigasi risiko fluktuasi harga komoditas energi di tengah ketidakpastian global.
ÔÇ£Seperti kita tahu krisis di Timur Tengah cukup memberikan guncangan pada pasar energi global, khususnya minyak mentah. Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot),ÔÇØ ujar Nursalam lewat keterangan pers, Rabu (22/4/2026).
Pihak bursa juga menyatakan telah menyediakan berbagai fasilitas transaksi multilateral lainnya bagi pelaku usaha untuk kebutuhan lindung nilai komoditas lain. Produk tersebut mencakup instrumen pada sektor mata uang hingga logam mulia emas.
ÔÇ£Sebagai bursa, kami akan terus mengembangkan kontrak-kontrak berjangka sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha,ÔÇØ paparnya.
Girta Yoga selaku Commodity Analyst, Research & Development ICDX menilai pergerakan harga minyak mentah dalam jangka pendek masih berpotensi kuat berada di tren bullish. Belum meredanya konflik di Timur Tengah dipandang sebagai faktor penggerak utama pasar saat ini.
ÔÇ£Risiko geopolitik dari perang Iran ini berdampak langsung pada gangguan pasokan di pasar global akibat aksi saling blokade di jalur pengiriman vital, terutama Selat Hormuz yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pasokan energi global,ÔÇØ beber Girta Yoga.
Beberapa indikator lain yang kini dipantau pasar meliputi negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta perkembangan konflik di wilayah Israel-Lebanon. Selain itu, kebijakan produksi dari organisasi OPEC+ dan tingkat permintaan dari negara importir besar seperti China dan India turut memengaruhi harga.
Analis memproyeksikan level resistance terdekat harga minyak dalam jangka pendek berada pada rentang 95 hingga 100 dollar AS per barel. Namun, jika terdapat katalis negatif yang menekan pasar, harga berpotensi terkoreksi menuju level support di kisaran 80 sampai 75 dollar AS per barel.