Transaksi Kartu Kripto Melonjak 230 Persen Sentuh Rp 138 Triliun

Transaksi Kartu Kripto Melonjak 230 Persen Sentuh Rp 138 Triliun
Foto: Ilustrasi Transaksi Kartu Kripto Melonjak 230 Persen Sentuh Rp 138 Triliun.

Volume transaksi bulanan menggunakan kartu debit dan kredit yang terhubung dengan aset kripto mengalami lonjakan sekitar 230% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan signifikan ini terjadi seiring dengan meningkatnya adopsi stablecoin dalam sistem pembayaran global.

Laporan dari The Kobeissi Letter, seperti dilansir dari Investortrust, menunjukkan nilai akumulatif transaksi kartu pembayaran berbasis kripto telah menyentuh angka US$ 7,8 miliar atau setara Rp 138,8 triliun pada bulan ini. Penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran kebutuhan harian melalui jaringan kartu konvensional menjadi motor utama lonjakan tersebut.

Dalam laporan yang sama, Visa tercatat mendominasi dengan menguasai sekitar 90% pangsa transaksi kartu kripto. Keberhasilan ini dicapai melalui kolaborasi dengan berbagai perusahaan berbasis blockchain, termasuk salah satunya adalah Jupiter Global.

Jupiter Global sendiri merupakan proyek pembayaran yang diinisiasi oleh tim di balik bursa kripto terdesentralisasi Jupiter di jaringan Solana. Peningkatan integrasi ini membuat akses terhadap stablecoin kini semakin gampang dan menyatu dengan layanan kartu pembayaran tradisional.

The Kobeissi Letter menggarisbawahi bahwa kemudahan dalam membelanjakan aset digital menjadi pemicu utama pertumbuhan ini. Pengguna kini dapat memanfaatkan aset kripto untuk bertransaksi dengan cara yang serupa dengan mata uang konvensional.

"Lebih banyak pengguna kini dapat membelanjakan stablecoin layaknya mata uang fiat menggunakan kartu kripto, yang semakin mendorong adopsi," tulis laporan tersebut dilansir dari Cointelegraph.

Kecenderungan ini membuktikan bahwa aset digital, khususnya stablecoin, kian melekat dengan sistem keuangan tradisional. Proses integrasi ini berjalan dinamis tanpa menggeser peran utama dari penyedia jaringan pembayaran raksasa seperti Visa maupun Mastercard.

Tren Penggunaan untuk Kebutuhan Sehari-hari

Sebelumnya, langkah ekspansi juga dilakukan oleh bursa kripto OKX yang merilis kartu pembayaran stablecoin untuk para pelanggan di kawasan Eropa pada Januari 2026 melalui jaringan Mastercard. Data internal OKX mengonfirmasi bahwa aktivitas belanja masyarakat mendominasi penggunaan kartu tersebut.

Transaksi terbesar berasal dari pemenuhan kebutuhan bahan makanan yang mengambil porsi sekitar 26% dari total volume. Sementara itu, aktivitas makan di restoran menyumbang sekitar 18% dan belanja online mencakup 13% dari keseluruhan transaksi.

ÔÇ£Ketika kripto mulai digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti membeli makan siang, maka adopsi pembayaran menjadi nyata,ÔÇØ tulis tim OKX.

Melihat potensi yang besar, Visa bersama perusahaan fintech Bridge milik Stripe telah mengumumkan rencana besar pada Maret 2026 untuk meluncurkan kartu pembayaran berbasis stablecoin di lebih dari 100 negara. Jaringan pelayanan ini diproyeksikan akan terus meluas secara global.

Pada fase awal, program ini akan diimplementasikan di 18 negara yang mencakup kawasan Amerika Latin seperti Argentina, Kolombia, Ekuador, Meksiko, Peru, dan Chili. Selanjutnya, korporasi menjadwalkan perluasan jangkauan layanan ke wilayah Asia-Pasifik, Afrika, hingga Timur Tengah sampai akhir tahun 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi