Kenaikan harga minyak mentah kembali memicu tekanan inflasi di negara-negara maju yang berdampak pada ketidakpastian pasar keuangan global. Fenomena ini diprediksi memicu kelanjutan kenaikan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat pada tahun ini.
Kondisi tersebut berdampak pada aliran modal ke negara berkembang yang menjadi lebih selektif serta memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah situasi ekonomi ini, investor perlu lebih cermat dalam menentukan strategi pengelolaan aset mereka.
Reksa dana menjadi instrumen alternatif bagi pemodal yang memiliki keterbatasan waktu atau keahlian dalam menganalisis instrumen investasi secara mandiri. Dilansir dari Investortrust, reksa dana kini sangat terjangkau karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan pembukaan awal mulai dari Rp 10 ribu.
Manajer Investasi (MI) merupakan pihak yang memiliki izin usaha untuk mengelola portofolio efek bagi para nasabah. Peran MI sangat krusial karena mereka yang memutuskan pembelian atau penjualan saham, obligasi, deposito, serta surat berharga lainnya.
Integritas dan kepiawaian MI dalam meracik portofolio menjadi kunci utama pengembangan dana nasabah. Analis pasar modal MNC Sekuritas, T Herditya Wicaksana, memberikan pandangannya mengenai strategi pemilihan aset saat ini.
"Kalau soal pilihan sahamnya, strategi MI ataupun retail hampir sama, dapat memilih emiten-emiten dengan katalis positif. Seperti saat ini, emiten-emiten energi berbasis minyak yang harganya sedang naik ataupun berbasis gas yang juga sedang naik menjadi pilihan," kata T Herditya Wicaksana.
Panduan Memilih Manajer Investasi yang Tepat
Langkah pertama yang wajib dilakukan investor adalah memverifikasi legalitas lembaga. Manajer Investasi harus mengantongi izin resmi dari OJK dan daftar perusahaan yang legal dapat diakses langsung melalui situs resmi otoritas tersebut.
Investor juga perlu memahami bahwa MI dilarang memberikan janji imbal hasil atau keuntungan tetap dalam produk reksa dana. Pada jenis reksa dana saham yang berisiko tinggi, kemampuan MI dalam menganalisis pergerakan pasar sangat menentukan potensi keuntungan atau kerugian nasabah.
Pemeriksaan rekam jejak juga sangat penting dilakukan melalui dokumen prospektus dan fund fact sheet. Melalui dokumen tersebut, investor dapat memantau kinerja historis dari produk reksa dana yang dikelola oleh MI bersangkutan.
Indikator kepercayaan publik dapat dilihat dari total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) milik MI. Jumlah dana kelolaan yang besar sering kali menjadi cerminan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kredibilitas pengelola dana tersebut.
Terakhir, investor disarankan membandingkan besaran biaya investasi yang dibebankan kepada nasabah. Informasi mengenai struktur biaya ini tersedia secara transparan di dalam prospektus maupun fund fact sheet untuk membantu investor mengambil keputusan yang paling efisien.