Pemilik kendaraan diesel modern perlu melakukan penyesuaian gaya mengemudi guna menjaga efisiensi operasional seiring dengan kenaikan harga bahan bakar solar nonsubsidi di Indonesia. Adaptasi teknik mengemudi menjadi solusi utama bagi pengguna mesin berstandar Euro 4 yang sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar yang dikonsumsinya.
Dilansir dari Otomotif, kenaikan harga solar berkualitas memicu kekhawatiran terkait biaya perawatan dan operasional harian. Pemilik Provis Autolab, Jasin Stefanus, mengungkapkan bahwa penggunaan bahan bakar yang hemat sangat bergantung pada cara pengoperasian kendaraan oleh pengemudi di jalan raya.
"Biasanya perlu adaptasi cara mengendarai karena torsinya sudah besar di rpm rendah dan bukaan gas tidak perlu banyak," kata Jasin Stefanus, Pemilik Provis Autolab.
Jasin menjelaskan terdapat perbedaan karakteristik yang signifikan antara mesin diesel modern dengan mesin bensin, terutama pada ketersediaan torsi. Mesin diesel masa kini mampu menghasilkan tenaga besar sejak putaran mesin masih berada di level rendah.
"Kalau sudah dapat torsinya di bawah, sebenarnya mobil sudah enak dipakai jalan tanpa harus injak pedal terlalu dalam," ujar Jasin Stefanus, Pemilik Provis Autolab.
Penekanan pedal akselerator yang terlalu agresif justru dinilai merugikan karena hanya akan membuang bahan bakar tanpa memberikan dampak besar pada performa harian. Strategi menjaga putaran mesin tetap rendah dianggap sebagai langkah paling efektif untuk menekan konsumsi solar saat menghadapi lalu lintas perkotaan.