Tim Pengawas Haji DPR mengapresiasi peningkatan kualitas pelayanan konsumsi bagi jemaah haji Indonesia saat melakukan inspeksi mendadak di Al Hidayah Tower, Makkah, Arab Saudi pada Rabu (20/5/2026). Fasilitas pemondokan terjauh tersebut dinilai menyediakan hidangan yang jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Peningkatan mutu makanan tersebut dirasakan langsung oleh rombongan pengawas saat meninjau menu katering. Berdasarkan laporan dari Detikcom, cita rasa hidangan yang disajikan kini telah disesuaikan dengan selera nusantara.
"Nah, kalau dari sini konsumsi ada perbaikan luar biasa kita apresiasi. Kita lihat juga nasinya bukan seperti nasi tahun-tahun kemarin, sekarang sudah familier dengan nasi Indonesia. Kemudian juga lauknya tadi kita lihat daging dengan masakan Indonesia," ujar Ketua Timwas Haji DPR Cucun Ahmad Syamsurijal usai peninjauan, Rabu (20/5/2026).
Al Hidayah Tower sendiri tercatat menggunakan jasa dari enam vendor katering untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para jemaah. Perusahaan penyedia jasa boga tersebut meliputi Al Musafirun, Aljaiza, Alsias, Jawharat Asia, dan Skilled cook.
Dua dari enam perusahaan katering tersebut beroperasi pada jarak yang cukup jauh dari pemondokan, yaitu Aljaiza sejauh 4 kilometer dan Al Musafirun sejauh 10 kilometer. Kendati demikian, Al Musafirun yang melayani 3.000 jemaah di Tower 1 dilaporkan mengirimkan makanan tepat waktu tanpa kendala mutu.
Kondisi operasional tersebut mendorong sejumlah anggota tim pengawas, seperti Wardatul Asriah, Atalia Praratya, Ina Ammania, dan Anshory Siregar, untuk mendatangi langsung dapur Al Musafirun. Di lokasi tersebut, para anggota dewan mencicipi menu makan siang yang terdiri dari nasi, daging, kentang mustofa, dan buah-buahan.
"Nasinya enak, enak, ini," celetuk anggota Timwas Haji DPR Wardatul Asriah saat mencicipi nasi katering.
Proses pencicipan makanan berlanjut ke hidangan lauk pauk lainnya yang telah disiapkan oleh juru masak dapur untuk jemaah.
"Tadi (mencicipi) ikan tunanya, sekarang terongnya," ujar anggota Timwas lainnya.
Setelah memastikan kualitas cita rasa, perwakilan dewan meminta tim konsumsi Kementerian Haji dan Umrah untuk melakukan pengawasan berkala pada dapur katering agar keterlambatan distribusi bisa dicegah. Timwas DPR juga menyarankan penggunaan kendaraan dengan pengatur suhu makanan jika terdapat hambatan di perjalanan.
Pihak pengelola dapur menjelaskan bahwa opsi penggunaan armada dengan pemanas sebelumnya pernah diuji coba untuk menjaga kehangatan makanan. Namun, metode tersebut menghadapi kendala teknis dalam menjaga stabilitas kemasan boks di dalam kendaraan.
"Untuk saat ini, makanan jemaah haji dikemas dalam bentuk boks untuk menjaga suhu makanan," kata Pengawas Katering Al Musafirun Irfan dan Kepala Dapur Ainun Rofiq.