PT Telkom Indonesia menyesuaikan alokasi investasi infrastruktur telekomunikasi yang berbasis dolar AS guna menghadapi lonjakan nilai mata uang tersebut dan ketidakpastian ekonomi makro pada Rabu (20/5/2026). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelancaran bisnis perusahaan di tengah tantangan global, seperti dilansir dari Detik iNET.
Penyesuaian anggaran ini menjadi fokus utama karena pengadaan infrastruktur sektor telekomunikasi sangat bergantung pada mata uang asing. Kendati demikian, manajemen memastikan bahwa permintaan pasar terhadap layanan internet terus mengalami pertumbuhan yang konsisten.
"Karena mungkin investasi kita dalam dollar, ada beberapa yang mungkin hari kami sesuaikan. Tapi sebetulnya dari sisi market dan kebutuhan pelanggan, internet itu tumbuh terus, baik itu B2B atau B2C itu tumbuh terus. No doubt," kata Dian dalam paparan TLKM 30: Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan melalui Transformasi Strategis di Kantor Telkom, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Sektor telekomunikasi dinilai tetap kokoh karena perannya telah bergeser menjadi kebutuhan primer masyarakat. Guna meningkatkan kelincahan dan profitabilitas, perusahaan menerapkan strategi TLKM 30 yang bertumpu pada empat pilar utama.
Pilar tersebut mencakup perbaikan tata kelola, perampingan anak usaha, optimalisasi nilai bisnis melalui InfraNexia, serta integrasi operasional yang sebelumnya tumpang tindih. Saat ini, segmen konsumen (B2C) melalui Telkomsel mendominasi 70 persen bisnis dengan penetrasi mencapai 100 persen, sementara fixed broadband masih memiliki ruang pertumbuhan sebesar 20 persen.
Sisa 30 persen bisnis ditopang oleh segmen korporasi (B2B) Infra, B2B ICT, dan pasar internasional. Perusahaan menargetkan komposisi kontribusi pendapatan antara segmen konsumen dan segmen bisnis lainnya dapat berjalan seimbang pada tahun 2030.
"Segmen B2B Infra dan internasional sudah memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa. Untuk yang B2B ICT ini sekarang lagi dimasak supaya ke depannya bisa menjadi source of growth yang baru," pungkas Dian.
Pengembangan segmen B2B ICT saat ini dilakukan melalui anak usaha seperti Telkomsigma, Infomedia, dan Nutech. Sementara itu, lini bisnis internasional digerakkan melalui Telin untuk menyasar pasar yang lebih luas.