Tekanan Terhadap Harga Emas Diperkirakan Belum Berakhir

Tekanan Terhadap Harga Emas Diperkirakan Belum Berakhir
Foto: Ilustrasi Tekanan Terhadap Harga Emas Diperkirakan Belum Berakhir.

JAKARTA, investor.id ÔÇô Tekanan terhadap harga emas diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. Sejumlah pakar pasar menilai lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS, ancaman suku bunga tinggi The Fed, hingga konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan logam mulia pekan depan.

Dikutip dari Kitco News, harga emas spot sepanjang pekan ini bergerak volatil. Emas sempat mendekati level US$ 4.600 per ons troi sebelum akhirnya terkoreksi dan kembali bertahan di kisaran US$ 4.500 per ons troi.

Tekanan terhadap emas muncul setelah pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama akibat inflasi AS yang masih tinggi.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan masih bertahan di atas level psikologis 5%, sedangkan yield Treasury tenor 10 tahun berada di atas 4,5%. Kondisi tersebut membuat daya tarik emas sebagai aset non-yielding semakin tertekan.

Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam mengatakan, pasar mulai mengkhawatirkan risiko krisis obligasi apabila yield terus melonjak tidak terkendali. ÔÇ£Jika yield tenor panjang terus naik secara agresif, pasar bisa mulai mempertanyakan status obligasi pemerintah sebagai aset safe haven,ÔÇØ ujarnya.

Menurut Aslam, sinyal penting yang perlu diperhatikan adalah ketika yield obligasi terus naik tetapi harga emas mulai berhenti turun. Kondisi itu dinilai dapat menjadi pertanda investor kembali memburu emas sebagai aset pelindung kekayaan.

Ancaman The Fed

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 23 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga Emas Keok, Pasar Takut The Fed Kembali Garang

Harga Emas Merosot ke Level US$ 4.500

Harga Emas Jatuh, Dua Pekan Beruntun Investor Kena Tekan

Misbakhun Yakin DSI Perkuat Tata Kelola dan Jaga Iklim Investasi

Purbaya Optimis RI Tak Hadapi Risiko Krisis Ekonomi

Harga Batu Bara Rontok, Kebijakan Ekspor Baru RI Bikin Pasar Cemas

Pengumuman Terbaru FTSE: Saham-saham Ini Keluar

Purbaya Pastikan Kejagung dan BPKP Usut Manipulator Ekspor

Penulis : Indah Handayani 23 Mei 2026 | 07:59 WIB

Chief Business Officer B2BROKER Group John Murillo menilai, tekanan terhadap emas kemungkinan masih berlanjut dalam jangka pendek seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed. Konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi membuat risiko inflasi semakin besar sehingga pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan dari bank sentral AS.

Murillo bahkan memperkirakan, harga emas berpotensi turun menuju US$ 4.000 per ons troi apabila tekanan pasar semakin besar. Meski demikian, ia tetap optimistis prospek jangka panjang emas masih kuat karena bank sentral dunia terus meningkatkan cadangan logam mulia.

Sementara itu, analis TD Securities menilai kenaikan yield obligasi saat ini lebih dipicu ekspektasi inflasi dan ketahanan ekonomi AS dibanding kekhawatiran terhadap defisit fiskal. TD Securities memperkirakan harga emas berpotensi menguji support di kisaran US$ 4.350 per ons troi apabila pasar semakin agresif memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed.

Senior Market Analyst Trade Nation David Morrison mengatakan, peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. ÔÇ£Pasar kini mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun lebih besar dibanding sebelumnya dan kondisi itu berpotensi menekan harga emas,ÔÇØ ujarnya.

Pekan depan, pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS seperti indeks kepercayaan konsumen, revisi produk domestik bruto (PDB), hingga data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Artikel terkait

Rekomendasi