Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menargetkan pemanfaatan aspal Buton minimal sebesar 30 persen dalam proyek konstruksi jalan nasional untuk mengurangi ketergantungan impor aspal minyak. Kebijakan strategis ini disampaikan di kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/4/2026), sebagai langkah mitigasi atas ketidakpastian ekonomi global.
Langkah penguatan material lokal ini diambil seiring dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga energi dunia. Dilansir dari Investortrust, Menteri PU menilai kemandirian material sangat krusial untuk menjaga stabilitas fiskal dan kesinambungan pembangunan infrastruktur dalam negeri.
"Hari ini kita berada di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, seperti kata Pak Presiden Prabowo Subianto, dinamika geopolitik global yang terus bergerak, termasuk di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada pelonjakan harga energi secara global, terganggunya pasok energi dunia, terus kemudian lari kepada tekanan fiskal dan polarisasi geopolitik serta risiko ketidakpastian investasi," kata Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.
Fluktuasi harga minyak mentah akibat konflik internasional disebut memberikan dampak langsung pada biaya penyediaan aspal yang merupakan material strategis pembangunan jalan.
"Situasi ini mendorong harga minyak menjadi berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur kita, khususnya pada material strategis yang kita pakai yaitu aspal," ungkap Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.
Pemerintah menekankan bahwa tingginya ketergantungan pada produk luar negeri menjadi ancaman bagi manajemen biaya pembangunan nasional.
"Kondisi ini memberi pesan yang sangat jelas bahwa ketergantungan adalah sebuah risiko dan dalam pembangunan nasional, risiko harus kita kelola dengan sangat disiplin agar cost tidak kemudian menjadi meledak," ucap Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.
Data Kementerian PU menunjukkan kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai 1 juta ton per tahun dan diprediksi meningkat hingga 1,5 juta ton. Ironisnya, sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor berbasis minyak bumi, sementara potensi mineral dalam negeri belum tergarap optimal.
"Namun demikian, sekitar mungkin hampir 80% masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi atau impor. Di sisi lain, kita memiliki cadangan mineral yang bernama aspal buton yang sangat besar di Pulau Buton. Namun untuk pemanfaatannya saat ini masih sangat-sangat terbatas," papar Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.
Saat ini, tingkat pemanfaatan aspal Buton atau asbuton baru menyentuh angka 4 persen dari total kebutuhan nasional secara keseluruhan.
"Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum akan mendorong pemanfaatan kebudayaan lokal melalui penggunaan aspal buton dalam konstruksi jalan nasional hingga mencapai minimal 30%," ujar Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.
Optimalisasi asbuton diproyeksikan mampu memberikan efisiensi anggaran negara hingga Rp4 triliun dan menambah penerimaan pajak sebesar Rp2 triliun. Selain penghematan fiskal, pengembangan industri ini diperkirakan menciptakan nilai ekonomi tambahan hingga Rp23 triliun serta menyerap ribuan tenaga kerja baru.
"Optimalisasi penggunaan asbuton untuk dalam pembangunan jalan merupakan langkah strategis untuk mendorong kemandiran ekonomi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan efisiensi fiskal, serta menjaga ketahanan pasokan material dalam jangka panjang," tutur Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum.