PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) menetapkan target pendapatan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp1,7 triliun untuk tahun buku 2026. Target tersebut ditetapkan menyusul realisasi kinerja positif perusahaan pada periode awal tahun yang didominasi oleh sektor hunian tapak.
Emiten properti ini melaporkan perolehan marketing sales senilai Rp491 miliar pada kuartal I/2026, yang menunjukkan kenaikan sebesar 52 persen secara tahunan. Berdasarkan data yang dilansir dari Market pada Senin (4/5/2026), pencapaian tersebut telah memenuhi 29 persen dari sasaran tahunan perusahaan.
Pertumbuhan kinerja ini ditopang oleh kontribusi unit komersial, apartemen, serta penjualan rumah tapak yang tetap stabil. LPCK juga memperkuat portofolio dengan merilis proyek anyar seperti Neo 5enses Collection untuk menangkap peluang permintaan pasar yang dinamis.
"Prospek industri properti, khususnya pada segmen hunian terjangkau dan premium, yang menunjukkan tren permintaan yang kuat dan berkelanjutan. Kami berkomitmen untuk menjaga kepercayaan konsumen dengan menyelesaikan pembangunan tepat waktu dan memastikan proses serah terima berjalan sesuai jadwal," ujar Indryanarum, Direktur LPCK.
Sektor rumah tapak menjadi motor utama pertumbuhan dengan menyumbang 83 persen dari keseluruhan prapenjualan. Sebanyak 541 unit properti berhasil dipasarkan melalui sejumlah proyek andalan meliputi Waterfront Estates, Lippo Cikarang Residence, XYZ Livin, hingga NEO 5enses Collection.
Dari sisi keuangan, perusahaan membukukan pendapatan total Rp760 miliar pada kuartal I/2026. Penjualan rumah tapak dan apartemen memberikan kontribusi terbesar senilai Rp421 miliar, disusul jasa pengelolaan kota Rp132 miliar, dan unit komersial sebesar Rp105 miliar.
"Ketiga segmen tersebut secara agregat berkontribusi sekitar 87% terhadap total pendapatan perseroan," ujar Indryanarum.
Laba kotor perusahaan tercatat mencapai Rp229 miliar dengan kenaikan margin menjadi 30 persen dari posisi 26 persen pada periode tahun sebelumnya. Selain itu, LPCK mengantongi EBITDA sebesar Rp125 miliar dengan margin 16 persen yang menunjukkan efisiensi operasional tetap terjaga di tengah ekspansi produk.