Tekanan ekonomi dan kecemasan sosial kini tengah melanda sebagian besar masyarakat kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan laporan FWD Consumer Outlook Survey yang dikutip dari Investortrust, sebanyak 66 persen responden mengaku merasa stres, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Riset yang berkolaborasi dengan Ipsos ini mengkaji tingkat kesejahteraan finansial, kekhawatiran, serta kesenjangan perlindungan kalangan kelas menengah Asia di berbagai generasi. Data dikumpulkan melalui survei online pada Oktober 2025 yang melibatkan lebih dari 1.000 responden kelas menengah Indonesia berusia 21ÔÇô65 tahun.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F. Manik memaparkan bahwa kondisi ini dipicu oleh lonjakan biaya hidup sebesar 70 persen. Faktor lain yang memperburuk keadaan adalah ketidakpastian pendapatan sebesar 43 persen serta tingginya biaya kesehatan yang mencapai 40 persen.
"Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Sementara terdapat kecenderungan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, banyak individu yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang di tengah meningkatnya biaya kesehatan. Temuan ini menjadi hal yang penting untuk membantu industri dalam menghadirkan solusi yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan nasabah," ujar Rudy.
Rudy menambahkan bahwa setiap generasi memiliki tekanan serta prioritas keuangan yang berbeda pada masing-masing tahapan kehidupan. Melalui survei ini, pihak industri berupaya memahami kondisi, kebutuhan, dan kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah secara lebih mendalam.
Associate Director Ipsos Indonesia Oscar Simamora menjelaskan bahwa setiap kelompok umur, mulai dari Generasi Z, Milenial, hingga Generasi X, memiliki titik kecemasan yang berbeda. Pemahaman ini dinilai penting bagi penyedia layanan jasa keuangan untuk menentukan strategi perlindungan yang tepat sasaran.
Bagi Generasi Z, fokus utama mereka tertuju pada kemandirian finansial dan kesehatan mental. Kelompok ini tercatat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
"Jadi mereka tuh somehow butuh proteksi, ketika misalnya mereka even apa nggak kerja, itu tetep masih dapat penghasilan duit," ujar Oscar.
Oscar menilai bahwa bagi para anak muda, kesehatan tidak lagi sekadar urusan fisik yang memerlukan perawatan medis atau infus.
"Karena orang atau generasi muda ini itu agak lebih unik gitu ya, karena lebih ngerasa stres, lebih ngerasa pressure ketika kerja, mungkin ada juga salah satu namanya kebutuhan mereka sebenernya lebih ke proteksi dari mentalnya mereka," tambah Oscar.
Tantangan Milenial dan Generasi X
Tantangan yang dihadapi oleh Generasi Y atau Milenial dinilai jauh lebih kompleks karena posisi mereka yang kerap terjepit sebagai generasi roti lapis atau sandwich generation. Kelompok ini dituntut untuk mengayomi keluarga inti sekaligus menanggung beban orang tua serta saudara mereka.
"Di mana mereka itu harus cover keluarganya mereka dan bukan cuma immediate keluarganya mereka, ya kan? Karena masih mungkin masih ada orang tuanya sama even I don't know mungkin kakak adiknya gitu ya. Tapi at the same time mereka tuh harus mikirin tentang retirement process-nya mereka gitu ya," ucap Oscar.
Sementara itu, fokus bagi Generasi X beralih pada aspek pengelolaan kekayaan atau wealth management. Mengingat usia mereka yang lebih senior, ancaman utama yang dikhawatirkan adalah penurunan nilai aset akibat inflasi.
"Jadi gimana sih caranya supaya mereka nggak kena inflasi secara direct gitu ya. Dan temen-temen misalnya lebih tahu apa lebih ke investasi mau nggak mau, nggak cuma youknow hard cash atau hard money gitu loh karena value-nya akan berkurang," tutur Oscar.