Survei 2026: Mayoritas Keluarga Kaya Asia Ingin Wariskan Harta tapi Belum Siapkan Suksesi, Mengapa?

Survei 2026: Mayoritas Keluarga Kaya Asia Ingin Wariskan Harta tapi Belum Siapkan Suksesi, Mengapa?
Foto: Survei 2026: Mayoritas Keluarga Kaya Asia Ingin Wariskan Harta tapi Belum Siapkan Suksesi, Mengapa?. (Illustration by Pexels)

Banyak keluarga kaya di Asia-Pasifik berambisi untuk menjaga kekayaan mereka agar bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Namun, faktanya, banyak di antara mereka yang belum memiliki rencana pewarisan kekayaan yang lengkap.

Survei yang dilakukan oleh bank swasta asal Swiss, Lombard Odier, mengungkap bahwa meskipun keinginan melestarikan kekayaan sudah ada, perencanaan suksesi masih belum matang. Lebih dari 390 individu dengan kekayaan tinggi di Asia-Pasifik ikut serta dalam survei ini.

Para responden memiliki aset investasi minimal USD 1 juta. Mayoritas dari mereka, atau sekitar 64,2 persen, menganggap pelestarian kekayaan lintas generasi sebagai prioritas utama mereka.

Namun demikian, hanya 26,9 persen dari keluarga responden yang memiliki rencana suksesi yang lengkap. Sementara itu, 39,4 persen responden menyatakan keluarga mereka belum memiliki rencana suksesi sama sekali.

Lombard Odier menyebut situasi ini sebagai kesenjangan antara niat dan pelaksanaan. Ketidakseimbangan ini menjadi lebih signifikan mengingat dunia mulai memasuki era transfer kekayaan generasi dalam skala besar, terutama di kalangan pengusaha generasi pertama.

Chief Investment Officer Asia Lombard Odier, John Woods, memperingatkan bahwa keluarga-keluarga kaya tersebut berisiko kehilangan kekayaan tanpa perencanaan yang tepat dan sistem tata kelola yang baik.

"Kurangnya perhatian pada perencanaan kekayaan ini cukup mengkhawatirkan," ujar Woods. Ia menekankan pentingnya menyusun perencanaan agar kekayaan dapat bertahan lama.

Survei tersebut juga mengungkapkan beberapa negara di Asia-Pasifik, seperti Jepang, Filipina, Malaysia, dan Hong Kong, menunjukkan kesiapan suksesi yang rendah. Di kawasan-kawasan itu, banyak keluarga yang belum memiliki rencana pewarisan yang jelas.

Lebih dari separuh responden menyatakan mereka belum merasa perencanaan suksesi relevan. Banyak dari generasi senior belum membahas dengan generasi muda mengenai pengelolaan kekayaan dan tata kelola keluarga.

Kepala Wealth Planning Asia Lombard Odier, Louisa Loo, menyatakan faktor budaya dan kurangnya urgensi menjadi penghalang utama dalam pembahasan suksesi. Diskusi mengenai warisan dan transfer kekayaan dianggap tabu di banyak negara Asia.

Hal ini membuat 29 persen responden menyebut kurangnya komunikasi terbuka sebagai tantangan utama dalam pengelolaan kekayaan keluarga. Loo mengingatkan, kurangnya persiapan dapat menimbulkan masalah serius jika kejadian tak terduga menghampiri, seperti kematian anggota keluarga atau perubahan drastis dalam bisnis.

Data dari survei ini memperjelas bahwa menjaga kekayaan keluarga memerlukan lebih dari sekedar akumulasi aset. Tanpa perencanaan suksesi yang matang, pengelolaan yang baik, dan komunikasi antargenerasi yang terbuka, kekayaan yang telah dikumpulkan dapat menyusut atau hilang saat terjadi pergantian generasi.

Artikel terkait

Rekomendasi